Honesty is the Best Policy, Kisah Ka’ab bin Malik

Seperti kita ketahui, surat At-Taubah atau nama lainnya surat Bara’ah adalah surat yang tidak diawali dengan Basmallah. Banyak pendapat para ulama tentang hal ini,salah satunya adalah pendapat Ali bin Abi Thalib RA, “Bismillahir rahmanir rahim adalah suatu kedamaian (ketenteraman), sedangkan Surah At-Taubah diturunkan tanpa kedamaian.”

Surah ini menyampaikan pernyataan tentang putusnya segala ikatan dan perjanjian antara kaum Muslimin dengan kaum musyrik, kecuali sebagian perjanjian yang telah ditetapkan masa berlakunya hingga waktu tertentu, itu pun dengan syarat bahwa perjanjian tersebut tidak mereka rusak atau mereka langgar. Karena itu, ketika kaum musyrik melakukan berbagai ulah kepada kaum Muslimin dan mereka bekerjasama dengan kaum Yahudi dan ingkar janji terhadap kaum Muslimin, maka tidak ada lagi ikatan perjanjian dan jaminan bagi mereka, tidak ada lagi undang- undang dan peraturan yang harus diberlakukan, serta tidak ada lagi tanggung jawab moral bagi mereka.

Adapun mengapa surat ini dinamakan At-Taubah, karena ada kaitannya dengan cerita seorang sahabat yang bernama Ka’ab ibn Malik, sahabat dari kalangan Anshor .

Pada suatu saat di musim panas yang sangat menyengat, Rasulullah mengumumkan suatu perintah yang sangat berat yaitu semua kaum muslimin laki-laki harus ikut perang Tabuk. Perang Tabuk terjadi setelah sampai berita kepada Rasulullah bahwa Raja Romawi akan menyerang Madinah dengan bala tentara yang besar melalui Syam.Perang ini berat karena  selain terjadi pada musim panas di padang sahara yang membara panas dan menewaskan tentunya,juga bertepatan pada masa musim panen kurma yang jika tidak dilakukan akan mengakibatkan kerugian besar bagi mereka karena panen kurma merupakan pendapatan tahunan mereka. Namun ketakwaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya berhasil melenyapkan penghalang berat tersebut.  Perang Tabuk juga disebut Jaisyul Usrah(pasukan di masa sulit) karena selain cuaca yang sangat menyengat juga kesulitan keuangan karena perang memerlukan perbekalan dan biaya yang besar.Maka Rasulullah pun menganjurkan kepada para sahabat untuk mengeluarkan sumbangan. Dan seorang sahabat , Ustman bin Affan, demi menyambut keampunan dan keridhoan Allah, merupakan penyumbang terbesar.

Pada saat seluruh kaum muslimin pergi berperang,di Madinah hanya tertinggal para wanita, anak-anak, orang tua jompo, orang cacat dan orang munafik. Ka’ab  bin Malik, sahabat Rasul yang saat itu tengah hidup makmur karena memiliki dua untadan secara fisik sehat, tidak ikut berperang hanya karena malas sehingga ia tertinggal jauh dari pasukan Rasulullah. Dan ternyata Perang Tabuk tidak pernah terjadi. Allah hanya mengetes keimanan para sahabat. Rasulullah sempat menanyakan keberadaan Kaab bin Malik saat itu.

Setelah Rasulullah dan kaum muslimin kembali ke Madinah, sekitar 80 orang munafik mengantri memberikan alasan palsu tentang mengapa mereka tidak ikut berperang. Rasul hanya bisa tersenyum pada mereka. Saat tiba giliran Ka’ab, Rasulullah tersenyum padanya, namun Ka’ab tahu senyum itu adalah senyum kemarahan Rasul. Sebenarnya bisa saja Ka’ab mengarang alasan, namun karena takut pada Allah dan Rasul-Nya maka ia berkata jujur pada Rasul. Rasul hanya berkata agar Ka’ab menunggu keputusan dari Allah.

Masa menunggu keputusan Allah terasa sangat menyiksa bagi Ka’ab, karena Rasulullah dan semua kaum muslimin memboikotnya. Mereka tidak mau menjawab salam Ka’ab dan menyapanya. Kaum Muslimin menganggap Ka’ab tidak ada. Setelah lewat 40 hari, datang perintah agar Ka’ab dan dua sahabat lain yang juga tidak berangkat perang dan tidak membuat alasan palsu, agar menjauhi istri mereka, maka lengkaplah sudah penderitaan Ka’ab, hidup serasa di negeri asing, tidak ada teman seorang pun. Pada saat-saat yang menyedihkan itu datanglah utusan dari Raja Romawi agar Ka’ab mengikuti mereka, karena mereka akan menyenangkan dan memperlakukan Ka’ab secara baik, tidak seperti perlakuan Rasul dan kaum muslimin terhadapnya. Ka’ab mengetahui bahwa ini adalah cobaan lain bagi dirinya. Maka surat itu ia bakar.

Di subuh hari, genap hari ke-50 pemboikotan, tiba-tiba terdengar teriakan para sahabat di luar rumahnya, bahwa Allah telah mengampuninya. Maka pecahlah tangis keras Ka’ab sambil bersujud karena bahagia.Dua buah baju, termasuk baju yang ia pakai, ia berikan kepada si pembawa berita bahagia. Saat itu kekayaan Ka’ab berupa 2 unta sudah ia infakkan karena perasaan bersalahnya. Maka untuk bertemu Rasulullah, ia meminjam baju ke tetangganya.

“Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang ketika itu wajah beliauberseri-seri, beliau mengatakan, “Bergembiralah, karena kamu mendapati sebaik-baik hari yang telah kamu lalui semenjak kamu dilahirkan oleh ibumu.”Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan untukku ini darimu ataukahdari Allah?” Beliau menjawab, “Dari Allah.” Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam ketikabeliau merasa senang, maka wajah beliau bersinar bagai bulan purnama, kami pun sudah memahami hal itu.

Ketika duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, aku berkata, “Wahai Rasulullah, di antara bentuk taubatku adalah aku serahkan hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam menjawab, “Sisakans ebagian hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu.” Lalu aku katakan, “Aku sisakan hartakuyang menjadi bagianku pada perang Khaibar. Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allahtelah menyelamatkanku hanyalah karena kejujuranku, dan di antara bentuk taubatku adalah aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur pada sisa umurku.”

“Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa seorang muslim diuji oleh Allah karena kejujuran bicaranya sejak aku tuturkanhal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai sekarang ini, yang lebih baik dari pada apa yang telah diujikan oleh Allah Azza wa Jalla kepadaku. Demi Allah, aku tidak lagiingin berbohong semenjak aku katakan itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai sekarang ini, dan aku berharapsemoga Allah menjagaku dari kedustaan dalam sisa umurku.

Ka’ab berkata kepada kedua orang temannya, “Kita bertiga adalah orang-orang yang tertinggal dari kelompok yang telah diterima oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika mereka bersumpah, laluRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membai’at mereka dan memohonkanampunan untuk mereka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menangguhkan persoalan kita sampaiada keputusan dari Allah Azza wa Jalla tentang persoalan kita; maka dalamhal tersebut Allah Ta’ala berfirman, “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan(penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagimereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempitbagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan)Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agarmereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, MahaPenyayang” (At-Taubah: 118).

HR.Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i.

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s