Blessing in Disguise, Kisah Perjanjian Hudaibiyah

Rasulullah bermimpi sewaktu berada di Madinah. Dalam mimpinya beliau dan para sahabatnya memasuki Masjidil Haram dan mengambil kunci Ka’bah lalu beliau melakukan thawaf dan umrah. Sebagian mereka ada yang mencukur dan ada pula yang memangkas rambutnya. Kemudian beliau mengabarkan mimpi beliau kepada para sahabat. Tentu saja mereka bergembira karena mereka sudah lama meninggalkan Mekah, kampung halaman mereka, berhijrah ke Madinah meninggalkan harta dan kerabat mereka. Mereka merasa mereka akan memasuki Mekah tahun itu juga. Lalu mereka pun mengadakan perjalanan dan membawa hewan-hewan kurban yang dihalau dihadapan mereka agar orang-orang Quraisy tahu bahwa kedatangan Rasulullah hanya untuk menziarahi Baitullah, bukan untuk berperang. Namun orang Quraisy mendengar berita kunjungan ini, dan mereka menghimpun barisan untuk menghalangi Rasulullah.

Mengetahui persiapan kaum Quraisy, Rasulullah berhenti didaerah yang bernama Hudaibiyah, lalu dikirimlah Ustman bin Affan sebagai utusan ke Mekah untuk menjelaskan maksud kedatangan Rasulullah bersama para sahabatnya. Orang Quraisy pun mengutus Suhail bin Amr untuk berunding dengan Rasulullah. Perundingan itu berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian damai yang sebagian isinya  adalah: kaum muslimin harus kembali ke Madinah dan menangguhkan kunjungan mereka ke Baitullah sampai tahun depan. Kaum muslimin harus mengembalikan kepada Quraisy warga Mekah yang datang ke Madinah untuk masuk Islam. Sebaliknya kaum Quraisy tidak akan mengembalikan kepada kaum muslimin orang Islam yang datang ke Mekah.Belum lagi pencatatan yang ditulis oleh Ali ibn Abi Thalib selesai ditulis dan Rasulullah belum membubuhkan cap kenabiannya, tiba-tiba ada teriakan seorang anak muda penuh dengan bekas siksaan berjalan tersendat karena dirantai dandiikat pada sebuah batu besar meminta tolong. Melihat itu Rasul berkata, “Biarkanlah Abu Jandal (nama anak muda itu) bersama kami. Bukankah perjanjian kita belum berlaku?” Tetapi utusan Quraisy bersikerasa gar pemuda itu yang tidak lain adalah anaknya diserahkan kepadanya. “Atau apakah kaum muslimin menginginkan perjanjian ini dibatalkan secara keseluruhan dan api peperangan dinyalakan?” Pada saat itu pemuda itu terus berteriak meminta tolong. Dengan berat hati Rasul berkata, Bersabarlah Abu Jandal, semoga Allah meluangkan bagimu jalan kebebasan.”

Peristiwa itu dirasa begitu sangat dashyat dan menggelisahkan bagi kaum muslimin. Karena mereka akan pulang tanpa berziarah ke Baitullah dan juga mereka tidak tega menyaksikan seorang muslim disiksa di hadapan mereka, padahal dia datang untuk minta pertolongan dan perlindungan. Lalu Umar ibn Khatab mendekati Rasulullah dan bertanya,

” Hai Nabi Allah, bukankah Anda benar-benar Nabi Allah?”

“Benar hai Umar!” jawab Rasul

“Kalau begitu, mengapa Anda mengalah dalam urusan agama kita?

“Hai Umar, sesungguhnya saya ini Rasulullah dan saya tidakakan mendurhakai-Nya dan Ia adalah pembela saya.”

“Bukankah Anda telah menjanjikan kepada kami wahai Rasulullah, bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan berthawaf di sana?”

“Pernahkah saya katakan hai Umar, bahwa hal itu akan terjadi pada tahun ini?”

“Tidak,” jawab Umar.

“Nah, maka kamu pasti akan mendatanginya dan berthawaf disana kelak.”

Lalu Umar berpaling meninggalkan Rasulullah dengan hati yang masih gelisah. Lalu ia mengajukan pertanyaan mengenai hal yang sama kepada AbuBakar yang tengah duduk dengan tenang. Ternyata jawaban Abu Bakar persis dengan yang ia dengar dari Rasulullah. Lalu tangan Umar dipegang  oleh Abu Bakar dan ditariknya dengan kuat serasa berkata,” Hai Bung, ia adalah Rasulullah dan sekali-kali ia takkan mendurhakai-Nya. Sungguh Allah adalah pembelanya, maka berpegang teguhlah kepada kendalinya, karena demi Allah, ia berada di atas kebenaran. “

Secara lahir perjanjian Hudaibiyah memang menguntungkan kaum musyrikin, namun di balik itu ada hikmah yang tersembunyi. Dengan adanya perjanjian gencatan senjata itu Rasulullah  bebas dari ancaman musuh sehingga beliau memanfaatkannya untuk menyebarkan Islam ke wilayah yang lebih luas. Maka mulailah dikirim surat ajakan kepada para rajaatau pemimpin beberapa negara. Di antaranya: Najashi-Raja Habasyah (Ethiopia),Muqauqis-Raja Mesir, Kisra-Raja Persia, Kaisar Romawi, Hajr-Raja Bahrain,Haudzah al-Hanafi-Peguasa Yamamah, Amir kabilah Ghassanah-Damaskus, Raja Oman,Pemimpin Yaman. Kemudian Rasulullah berkonsentrasi membersihkan sisa-sisa kelompok Yahudi di utara Madinah yang menghasut kabilah-kabilah Arab untuk memerangi beliau.

Penerimaan para pemimpin di atas terhadap ajakan Rasulullah untuk memeluk Islam adalah sebagai berikut: Heraklius-Kaisar Romawi tidak masuk Islam karena takut kehilangan kerajaanya. Kisra-Persia merobek surat Rasulullah dan Allah pun meruntuhkan kerajaannya. Raja Habasyah (Negus) masuk Islam dan meletakkan surat tersebut di keningnya. Pemimpin Mesir tidak masuk Islam tapi menghormati kedatangan surat tersebut. Raja Bahrain masuk islam bersama kaumnya. Amir Yamamah masuk Islam dengan syarat dia diangkat menjadi gubernur. Amir kabilah Ghassanah mengancam akan memerangi Madinah. Pemimpin Yaman masuk Islam. Penguasa Oman masuk Islam.

Berikut ini adalah surat balasan dari Najasyi, raja yang beragama Nasrani yang telah menerima para sahabat yang hijrah ke Abisina (Habasyyah/Ethiopia).

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Dari Ashamah, RajaNajasyi. Salam sejahtera bagi Anda, wahai Nabi Allah. Semoga nikmat, rahmat dan berkah Allah senantiasa tercurah kepada Anda. Tiada tuhan selain Allah, yang telah memberiku hidayah kepada Islam. Wahai Rasulullah, surat Anda tentang Isa telah sampai kepadaku. Demi Rabb langit dan bumi, Isa persis seperti yang Anda sampaikan. Kami telah mengetahui Nabi yang akan diutus kepada kami. Kami dekat dengan sepupu Anda (Ja’far bin Abu Thalib) dan para sahabatnya dan kaum muslimin yang bersamanya. Saya bersaksi bahwa Anda adalah utusan Allah yangj ujur dan dapat dipercaya. Saya berbaiat kepada Anda dan kepada sepupu Anda dan masuk Islam di hadapannya karena Allah, Rabb seluruh alam.

Setelah perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslimin dan Quraisy, kabilah Bakr bersekutu dengan Quraisy sedangkan kabilah Khuza’ah yangmerupakan sekutu bani Hasyim sejak periode Abdul Muthalib, kakek Rasulullah,bersekutu dengan kaum muslimin. Antara kabilah Bakr dan Khuza’ah menyimpan dendam dan hutang darah maka tatkala suatu hari kabilah Khuza’ah terlihat olehBakr maka mereka membunuh sebagian mereka, sebagian lain lari ke tanah suci dan mereka pun dibunuh, lalu mereka yang menyelamatkan diri meminta perlindungan Rasulullah,lalu Rasulullah bersiap-siap menuju Mekah. Kaum Quraisy menyesali perbuatan mereka yang telah menodai isi perjanjian Hudaibiyah. Maka terjadilah persitiwa Fathu Mekah.

Fathu Mekah yang terjadi pada tahun 8 H merupakan peristiwa yang paling dinanti kaum muslimin, sehingga dianggap kemenangan yang terpenting bagi Islam setelah bertahun-tahun diisi dengan dakwah dan jihad menyampaikan risalah Islam.

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s