Malang, Aku Datang (Siluet Part 1)

Pagi itu untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di bumi Malang. Dengan masih berbalut jaket karena kedinginan berada di dalam bis ber-AC, di terminal Arjosari Malang aku merasakan udara dingin yang sama seperti yang kurasakan di dalam bis. Udara dingin Malang pagi itu di bulan Juli menyerang badanku yang tidak tahan dingin. “Oh, ternyata Malang kota yang dingin,”  pikirku.  Begitu turun dari bis, aku langsung menelopon Dini. Ternyata dia sudah menunggu di luar terminal. Setelah bertanya di mana pintu keluar pada orang-orang yang ada di sekitarku, lalu aku langsung menuju arah di mana pintu keluar berada. Setelah sampai pintu keluar, kugerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari wajah yang kukenal sejak belasan tahun silam. Lalu mataku menangkap rupa yang kucari: wajah putih bersih, mata seperti artis Desi Ratnasari, hidung mancung,senyum merekah yang memamerkan gigi molar-nya yang kecil dan lancip. Ah, tidak salah lagi itu pasti  Dini, teman satu SMP, SMA dan kampus. Walaupun tidak pernah sekelas dengannya, namun aku dan Dini adalah dua orang sahabat . Dari kejauhan aku melihat Dini melambaikan tangannya. Lalu dengan semangat sambil terus tersenyum padanya dan  sambil menjinjing tas tangan aku menghampirinya. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki berbadan tegap dan tinggi, ya, itu pasti suaminya Pak Iman yang didampingi kedua anaknya yang ganteng dan cantik, Hakim dan Tia.

Ah, senang sekali aku bertemu dengan Dini, setelah 8 tahun tidak bertemu. Terakhir bertemu pada saat acara resepsi pernikahannya. Setelah menikah Dini diboyong suaminya ke Malang. Dini sangat antusias ketika kuberitahu bahwa aku akan ke Malang untuk menimba ilmu. Siapa, sih, yang tidak akan senang bakal bertemu teman sekampung di kampung orang? Karena sudha sekian lama tidak bertemu, maka pertemuan itu menjadi pertemuan yang sangat mengharukan. Lalu Dini langsung membawaku menuju rumahnya.

Di sepanjang jalan, sambil mulutku komat kamit ngobrol dengan Dini, mataku tidak lepas dari memperhatikan kota Malang yang kuyakini agak sepadan dengan Bogor. Ada seruas jalan di Malang yang mirip dengan Jalan Ahmad Yani Bogor yang ditumbuhi tumbuhan besar dan tua di sepanjang jalan. Jalan-jalan di Malang ternyata mulus dan lebar. Tidak kujumpai kemacetan sama sekali saat itu, mungkin karena masih pagi dan Hari Minggu pula. Apalagi ketika mobil melewati Jalan Ijen yang merupakan landmark kota Malang, di mana di sepanjang jalan itu berjejer dengan rapi pohon palem besar. Dari balik jendela mobil kulihat  angkot-angkot di kota Malang yang semuanya berwarna biru. Tidak kujumpai angka-angka tertera di angkot-angkot itu. Yang ada hanya huruf-huruf seperti LDG, ADL, dl. Ternyata huruf-huruf itu menandakan singkatan dari nama-nama wilayah yang dilalui sang angkot. Baru kali ini aku melihat sistem per-angkot-an yang berbeda dengan kota-kota lain. Ya, Tentu saja aku belum bisa meng-eksplore Malang hari itu, karena rentang waktuku yang lumayan lama tinggal di Malang, sekitar 3 tahun, akan membawa si petualang jadi-jadian ini menjelajah bumi Malang dan bumi Jawa Timur di hari-hari ke depan.

Tidak lebih dari setengah jam kemudian mobil Dini memasuki sebuah perumahan dengan gerbang bertuliskan Bukit Hijau. Begitu mobil memasuki gerbang perumahan, kulihat di depan mata dari kejauhan berdiri sebuah gunung berwarna biru kehijauan. Langit Malang saat itu begitu cerah, sehingga panorama gunung nan indah bisa terlihat jelas menyedapkan pandangan mata. Oh, itu mungkin kenapa perumahan di mana Dini dan keluarga tinggal dinamakan Perumahan Bukit Hijau, karena bisa melihat panorama dataran tinggi yang berwarna hiau. Tidak lama kemudian, di sebuah rumah berpagar orange suami Dini memberhentikan mobilnya. Ternyata inilah tempat kediaman sahabatku ini beserta keluarganya.

Esok harinya, agak siang,  Rhinta datang ke rumah Dini untuk mengantarku pergi mencari bangunan yang akan menjadi kampusku dan sekaligus mencari kosan. Rhinta adalah teman adikku yang tinggal di Malang. Kami pernah bertemu dan mengobrol sewaktu Rhinta dan teman-teman adikku yang lain datang ke rumahku. Orangnya kecil mungil dan selalu tersenyum. Yah, beruntung sekali aku memiliki banyak teman yang baik dan siap menolong. Heran juga sih, kenapa teman-temanku ini selalu siap membantuku di saat aku memerlukan bantuan mereka. Ya, karena mereka aslinya baik tentunya.

Tiba di kampusku yang mungil yang sangat berbeda dengan kampusku yang dulu, aku dan Rhinta, langsung mencari meja petugas untuk daftar ulang. Ya, sebelumnya aku sudah mengirimkan persyaratan lewat pos. Para petugas di sana menyambutku dengan penuh keramahan. Maklumlah aku ini calon mahasiswa yang paling jauh, dari Bogor gitu, loh. Tentu saja merupakan suatu kebanggaan bagi pihak kampus ada mahasiswa datang dari jauh yang berminat kuliah di sana, meskipun mereka sedikit keheranan melihatku yang sudah tidak muda lagi tapi mau tetap belajar. Sampai jauh pula ke Malang. Lalu kutunjukkan kartu tanda ikut ujian yang dikirimkan kampus ke alamatku di Bogor.

“Sampeyan dulu kuliah jurusan apa, Mbak?” tanya seorang karyawan kampus yang berambut ikal dan berkumis tebal mirip Pak Raden di serial si Unyil. Kulihat semua mata di ruangan itu tertuju padaku mungkin ingin mendengarkan jawabanku atas pertanyaan rekannya. Aku diam sejenak mencerna kosakata “sampeyan” dalam bahasa daerahku yang beda arti dengan bahasa Jawa. Dalam bahasa Sunda sampeyan berarti kaki. Jadi di telingaku rasanya kata itu tidaklah tepat. Tentu saja yang dimaksud sang penanya adalah panggilan halus untuk kata ganti orang kedua, yaitu kamu. Baru setelah menyadari kata itu bukan berarti kaki, maka aku menjawab pertanyaan sang penanya.

“Oh, saya lulusan SMA, Pak,” jawabku malu-malu. Lalu kulihat pandangan tidak percaya pada matanya.

“Masa, sih?”

“Iya, Pak. Saya asli lulusan SMA.” jawabku sambil cekikan lalu melanjutkan kata-kataku dalam hati, “Bukan lulusan STM atau pun Madrasah Aliyah, Pak, maksudnya hihihihi.”

Sebelumnya aku memang sudah memberitahu Rhinta agar bisa menyembunyikan identitasku. Aku tidak mau semua orang di Malang tahu kalau aku pernah kuliah. Sebenarnya aku malu dengan gelar sarjanaku, karena aku tidak menjalankan kewajibanku berkenaan dengan gelar sarjanaku. Aku sama sekali tidak mengamalkan ilmu yang pernah kutimba selama aku kuliah dulu. Malu rasanya aku mengaku sebagai sarjana anu, sedangkan ilmunya pun sudah menguap entah ke mana. Penyembunyian identitas ini juga dimaksudkan supaya teman-temanku nanti tidak terlalu silau dengan pendidikanku. Takutnya bisa saja mereka mengganggapku lebih tinggi ilmunya dibandingkan mereka.

Setelah selesai mengisi formulir daftar ulang, lalu aku berusaha untuk berkenalan dengan calon mahasiswa di sekitarku. Mereka adalah para fresh graduate SMA yang ingin belajar akupunktur . Dari sejak aku memasuki kampus, aroma berada di lingkungan berbahasa Jawa sangat terasa. Para anak muda yang akan menjadi temanku ini duduk bergerombol dengan teman-teman satu sekolah atau satu SMA mereka. Tentu saja mereka menggunakan bahasa Jawa yang sangat fasih dalam bincang-bincang mereka. Karena ini pertama kali aku tinggal di lingkungan berbahasa Jawa, maka aku merasa ada dalam sebuah lingkungan yang asing hehehe.

“Memang kamu mau kuliah di sini juga?” tanya seorang calon mahasiswa kepadaku. Aku terkena shocked culture saat mendapatkan pertanyaan dengan kata ganti “kamu” dari orang yang umurnya jauh di bawahku.Yah, maklumlah aku ini orang Indonesia asli, jadi telingaku terasa asing ketika ada anak jauh di bawah umurku memanggilku dengan sebutan kamu. Apalagi di daerah asalku penyebutan dengan menggunakan “kamu” dianggap tidak sopan. Tapi aku langsung ingat sebuah pepatah di mana bumi di pijak, di situlah langit dijunjung. Aku sadar, inilah saat yang tepat bagiku untuk mengamalkan pepatah itu. Aku harus terbiasa dengan panggilan kata “kamu” ketika ada orang yang memanggilku.

Setelah urusan kampus beres, lalu aku, Rhinta dan beberapa teman baruku di kampus bersama-sama mencari kosan. Kami memasuki jalan kecil di sebelah kampus. Di depan sebuah rumah di ujung jalan bercat serba biru kami berhenti. Rumah itu terlihat bersih. Cat biru yang mendominasi membuat rumah ini terlihat sejuk dan segar. Halaman di sekitar rumah biru ini terlihat asri, bersih terawat, dengan tanaman bunga dan pohon pisang yang terlihat terpelihara. Kami semua tertarik untuk mengetahui apakah rumah itu menyediakan kamar untuk dikoskan dan tentu saja ingin mengetahui harga sewa kamar perbulannya.

Setelah kami membunyikan bel yang ada di balik pagar, seorang ibu berusia sekitar 60 tahunan keluar dari rumah. Lalu dengan ramah beliau mempersilahkan kami masuk. Mendengar logat bicaraku, ibu tersebut bertanya sambil tersenyum.

“Adek ini asli dari mana? Sepertinya bukan dari Jawa, ya?”

“Iya,Bu, saya dari Bogor.”

“Wah, pantas. Bogor na di mana linggihna?”

Mendengar ucapan ibu itu, aku kaget sekaligus berbunga-bunga dengan bahasa yang baru saja ia ucapkan.

“Loh, kok Ibu tiasa nyarios Sunda?” tanyaku.

“Ibu asalna ti Sumedang, Neng. Ari Eneng namina saha?”

“Abdi Mia,Bu. Aduh, meuni bungah papendak sareng urang Sunda di dieu.”

bersambung

 terjemahan

Bogor na di mana linggihna: bogornya di mana tinggalnya?

Ibu tiasa nyarios Sunda: ibu bisa bicara Sunda

Ibu asalna ti Sumedang, Neng. Ari Eneng namina saha?”: ibu asalnya dari sumedang, kalau eneng (panggilan wanita sunda) siapa namanya?

meuni bungah papendak sareng urang Sunda di dieu: sangat senang bertemu orang sunda di sini

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Novel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s