Mahasiswa Baru (Siluet Part 3)

Tidak terasa akhirnya tiba saatnya  ujian  masuk sekolah ini. Mata ujian yang diujikan adalah Matematika, IPA, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Aku sengaja membeli buku-buku rangkuman pelajaran SMA  yang diujikan sebagai tanda aku benar-benar  ingin lulus tes dan belajar di sekolah ini.

Ujian masuk dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Wah, aku jadi merasa semakin mantap untuk kuliah di sekolah ini. Hal ini semakin menguatkanku untuk belajar akupunktur di Sekolah Tinggi Ilmu Akupunktur Malang (STIAM). Pertimbangan yang membawaku datang jauh-jauh untuk belajar akupunktur adalah: kesatu, karena letaknya di kota Malang yang merupakan kota berukuran sedang seperti Bogor. Sebenarnya di Surabaya juga ada pendidikan D3 akupunktur, namun karena  aku tidak begitu nyaman tinggal di kota besar seperti Jakarta, maka Malang adalah pilihan terbaikku. Kedua, dalam brosur sekolah ini terdapat logo sebuah RS di Malang. Kalau sekolah itu milik sebuah rumah sakit, berarti sekolah baru ini tidak akan bubar, sebab aku belum pernah dengar ada rumah sakit bubar, dan tentunya para mahasiswa akan mudah praktek lapangan di rumah sakit itu. D3 gitu loh pasti banyak prakteknya, bukan? Ketiga, karena di brosur dicantumkan nam ketua organisasi profesi pusat yang ikut jadi dosen di sekolah ini.  Keempat, karena melihat gelar dosen-dosennya yang berpendidikan tinggi,  malah ada seorang dosen yang kuingat namanya pernah masuk kolom “Sosok” harian Kompas!

Kembali ke soal ujian masuk. Tepat pukul 9 lewat 30 menit sebuah amplop besar berisi soal ujian dibuka dengan disaksikan para perwakilan dari dua dinas terkait di atas. Aku sempat deg-degan menghadapi ujian ini, karena pelajaran andalanku yang kuharap meraih nilai besar hanya ada pada pelajaran bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Pelajaran selebihnya hanya menunggu keajaiban terjadi . Tapi dasar diriku, si Mia sang ratu ngebut kalau ujian, walau dalam posisi yang kritis tetap saja aku suka ingin cepat-cepat  mengerjakan soal supaya bisa rangking satu keluarnya.

Di ujian masuk ini, ternyata nomor urutku menempatkan diriku duduk di bangku paling belakang.  Tidak jauh dari tempat dudukku ada seorang calon mahasiswa perempuan berwajah masam dengan tenangnya tidur-tiduran di atas tumpukan kertas ujian di kursinya.  Hatiku terasa panas,karena ternyata ada orang yang menyaingi kecepatanku dalam mengerjakan soal. Aku curiga anak itu asal-asalan mengerjakan soal ujian.  Yah, itulah alasan yang kubuat untuk bisa menyenangkanku bahwa  tidak ada satu pun manusia di sana yang mampu menyaingiku dalam hal  kecepatan mengerjakan soal. Fyi,  perlu diingat, walaupun cepat beres mengerjakan soal namun tidak menjamin banyak jawaban yang betul, yah! Haha. Akhirnya aku lah pemenangnya. Aku yang lebih dulu mengumpulkan lembar jawaban hehe.  Setelah itu aku bergegas kembali ke tempat  kosku.

Esoknya adalah tes kesehatan. Di jadwal tertulis tes akan diadakan pada pukul 9 pagi. Maka sebelum pukul 9 para calon mahasiswa sudah berkumpul di halaman kampus. Namun setelah ditunggu-tunggu hingga pukul 11 acara belum juga dimulai dengan alasan dokternya belum datang. Kami pun hanya bisa menunggu, jadi tidak ada kerjaan. Hal yang bisa kami kerjakan adalah ngerumpi, atau gentayangan di sekitar kampus. Baru pada pukul 1 siang dokter dan dosen yang akan mengetes tiba di kampus. Tidak ada pernyataan maaf atas keterlambatan mereka kepada para calon mahasiswa karena akibat keterlambatan ini mereka telah membuat para calon mahasiswa menghabiskan waktu sia-sia tanpa kerjaan dalam menunggu . Namun kebanyakan calon mahasiswa, karena merasa diri mereka  bukan orang penting, merasa sudah semestinya seperti itu: orang yang berada di atas adalah orang penting jadi selalu sibuk dan waktu mereka sangat berharga. Karena alasan itu lah maka tidak terlihat ada rupa kesal sedikit pun di wajah teman-temanku.

Akhirnya setelah menunggu beberapa hari, keluar juga pengumuman kelulusan ujian saring. Aku lulus! Tapi sepertinya sih semua yang daftar di sana lulus semua hahahha. Berbarengan dengan itu diumumkan juga bahwa perkuliahan akan diadakan bulan depan.

“Hah, bulan depan? Lama benar? Mau ngapain aku di sini? Berarti aku harus pulang dulu ke Bogor.”

*****

Sebulan kemudian aku kembali ke Malang. Begitu menginjakkan kaki di kosan, aku mendapat kabar bahwa kampus kami pindah. Aku kaget, kok segampang itu kampus pindah-pindah tempat, padahal semua mahasiswa sudah mendapat kosan dan membayar lunas untuk ditinggali selama setahun. Berita kepindahan mendadak kampus ini membuat kepercayaanku sedikit goyah.  Orang tua Ria, teman kosku, terang-terangan merasa tidak percaya pada kampus ini. Ia curhat padaku, “Ga bonafit banget ini kampus!” Namun karena sudah kepalang tanggung, maka kami pun berusaha untuk tetap berbaik sangka. Maka baru sehari di Malang, aku dan teman-teman sudah pontang panting mencari kosan dan memindahkan barang-barang kami ke kosan baru karena letaknya jauh dari kosan kolam renangku.

Betapa sedihnya kami mengucapkan selamat tinggal pada Bapak dan Ibu kos yang sudah kami anggap seperti orang tua kami sendiri. Bapak dan Ibu kos memaklumi keadaan kami, maka ia hanya menghitung kosan kami selama sebulan saja. Sisanya uang kos kami dikembalikan. Dengan berlinang air mata, Bapak dan Ibu kos melepas kami. Mereka mewanti-wanti supaya kami tidak melupakan mereka dan tetap bersilaturahim ke kosan kolam renang. hiks hiks.

****

Karena waktu yang mepet mencari tempat kos, akhirnya aku tinggal di asrama, di lantai bawah kampus baru kami. Sedangkan temanku yang lain mendapat kos di luar asrama. Sehingga anggota kosan kolam renang pecah, tidak berkumpul lagi.

Kami memulai hari-hari awal kami menjadi mahasiswa STIAM dengan acara orientasi mahasiswa baru. Untung  saja kami angkatan pertama, jadi tidak ada sophomore atau mahasiswa tingkat kedua yang memplonco kami seperti layaknya para freshman di kampus lain. Bagiku tentu saja acara pemploncoan sudah bukan masanya lagi. Namun kalo pun ada sudah merupakan konsekuensi  bagiku untuk mengikutinya. Kenekatanku kuliah lagi dengan teman-teman yang jarak usianya 14 tahun di bawahku adalah merupakan konsekuensi yang harus kujalani.

Pada saat orientasi mahasiswa ini hadir semua dosen. Mereka memperkenalkan diri mereka sekaligus mata kuliah yang akan mereka ajarkan. Aku kagum karena hampir semua pengajar adalah dokter dengan gelar spesialias, malah ada yang bergelar professor. Ada juga  orang-orang yang sudah berkecimpung di dunia akupunktur yang kukenal dari kolom Sosok Kompas.  Acara orientasi juga dihadiri oleh ketua organisasi profesi akupunkturis.

Mahasiswa angkatan pertama kampus kami berjumlah 37 orang. Dari hasil obrolanku dengan teman-teman baruku di kampus aku jadi tahu ternyata mereka hampir mayoritas berasal dari keluarga petani.  Untuk membiayai kuliah ada yang menjual sapi,  malah ada yang dibiayai oleh pamannya.   Seumur-umur baru kali ini aku punya teman dari keluarga petani. Motivasi mereka mengambil  kuliah di kampus ini adalah karena ingin cepat bekerja setelah selesai kuliah. Bagi mereka kuliah di jurusan lain atau di universitas tidak menjamin mereka mendapat pekerjaan. Terlebih lagi bidang ini sedang dicari banyak orang.

Acara orientasi diisi dengan banyak tugas. Tugas-tugas itu diantaranya kewajiban menerjemahkan pengantar akupunktur dari buku-buku berbahasa Inggris.  Karena aku agak sedikit lancar dalam menerjemahkan tanpa harus sering melihat kamus, maka banyak teman yang meminta pertolonganku. Saat presentasi tugas pun aku yang kebagian maju sebagai penyaji. Walau pun itu kali pertama aku menggunakan power point, karena sewaktu kuliah  belum ada MS power point yang ada OHP . Karena hobiku yang suka ngenet maka aku bisa membuat presentasi yang bisa memukau dosen dan teman-temanku.  Aku membuat beberapa animasi dalam silde-slide presentasiku dengan menyertakan poin-poin penting dalam masing-masing slide, sedangkan teman-temanku mengkopi paste hampir semua kalimat ke dalam slide. Yah wajarnya saja mereka seperti itu karena mereka belum paham dan belum mengetahui bagaimana menggunakan MS power point.

Di akhir presentasi seorang dosen yang bernama Pak Bambang yang terlihat sudah berumur  dan bersuara lembut, memberikan pujian secara tidak langsung padaku.

“Ya, sudah ada yang bagus sekali presentasinya, namun bukan berarti yang lain jelek, ya! Mohon yang sudah bagus menularkan ilmunya pada temannya yang lain.” kata sang dosen dengan pandangan mata yang tajam ke arahku. Atas dorongan dosen itu, maka teman-temanku berlomba-lomba membuat presentasi dengan slide dan penyajian yang bagus.

Aku pernah berkata pada Bapakku, bahwa di Malang aku akan belajar selayaknya mahasiswa S2 walaupun aku kuliah setara D3. Maka sepulang kuliah, biasanya aku habiskan waktuku di perpustakaan kampus. Membaca buku-buku dan jurnal akupunktur, juga buku-buku kedokteran konvensional. Banyak sekali yang harus kukejar mengingat background-ku yang tidak ada kaitannya dengan ilmu yang sedang kupelajari sekarang. Karena sering ada di perpustakaan, seorang dosen muda curiga kalo aku pernah kuliah.

“Sampeyan dulu kuliah di mana, Mbak.” tanyanya.

“Ya kuliah di sini, Pak.” jawabku berusaha meyakinkan

“Ah, saya tidak percaya, pasti pernah kuliah.”

“Loh, kok, Bapak nuduh sih?” jawabku sambil tertawa

“Hayo lah, Mbak, Sampeyan dulu kuliah di mana?” desaknya.

“Oke deh, Pak, saya kasih tahu, tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya!  Janji?”

“Iya, Mbak, tenang saja.”

“Iya pak, dulu saya pernah kuliah di kampus Universitas Sukacita.”

“Hah?!!” serunya . Berbarengan dengan selesainya kalimat saya yang terakhir, sambil tangannya menahan ke meja karena dosen dengan tubuh tambun ini hamper saja jatuh ketika mendengar nama kampusku yang merupakan kampus favorit.

“Ingat loh, Pak, janjinya.”

Esok harinya Pak Indra, pemilik kampus, ketika berpapasan denganku dengan penuh kekaguman langsung mengajukan pertanyaan retoris.

“Mbak Mia, dulu pernah kuliah ya? Sastra Inggris ya?”

“Loh, kata siapa, Pak?”

“Pokoknya ada, deh.” katanya sambil tersenyum-senyum.

“Duh, Pak mohon jangan disebarkan ya. Saya malu, Pak.” kataku dengan mimik wajah memohon. Dan akhirnya berita bahwa aku pernah kuliah menyebar keseantero kampus dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ini berkat ulah dosen muda yang kutemui di perpustakaan yang tidak bisa memegang janjinya!

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Novel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s