Kosan Kolam Renang (Siluet Part 2)

Saat kami berbincang-bincang, muncul seorang Bapak berkumis lebat, bertampang sangar. Tampaknya beliau ini dulunya bekerja sebagai polisi militer, karena ada lukisan beliau sewaktu muda mengenakan seragam PM di ruang tamu.

“Siapa ini?” tanyanya sambil melotot.

Walaupun penuh ketakutan api aku pura-pura sok tahan banting melihat matanya, “Kami sedang mencari kosan,Pak,”

“Ya, di sini ada 3 kamar dikoskan. Berapa orang yang mau kos?” tanyanya dengan suara tegas dan masih dengan tampang yang menakutkan.

“Kami berempat, Pak. Inginnya satu kamar berdua. Nanti yang satu kamar lagi biar saya cari teman untuk kos di sini juga.” jawabku mantap walau hati ciut.

Setelah pembicaraan sekitar harga yang tidak alot karena nyaris tidak ada tawar menawar dari kami,  akhirnya kami menyetujui harga dan langsung memutuskan untuk kos di sana. Karena selain cocok dengan tempatnya yang bersih dan asri, kami juga merasa cocok dengan ibu dan bapak pemilik rumah. Ternyata walaupun terllihat garang, bapak kos ini, setelah ngobrol ngalor ngidul, sebenarnya memiliki hati yang lembut selembut kapas kecantikan dan memliliki selera humor.  Lalu kami pastikan besok akan pindah ke tempat kos agar bisa belajar dengan tenang saat ujian masuk dua hari yang akan datang.

Di tempat kos kami yang penuh dengan nuansa biru ini, aku sekamar dengan Santi, anak Rembang yang imut, mungil, suaranya nyaris tak terdngar dan pendiam kalo ga diajak ngomong. Kamar kedua dihuni oleh Tika dan Ira. Nama terankir yang kusebut itu yang dulu bilang “kamu” kepadaku. Namun setelah beberapa jam bersamaku, dia telah berubah dengan selalu memanggilku Teteh hehe. Oh, jadi waktu pertama kali bertemu itu dia menyangka aku tidak jauh beda umur dengannya. Wah, senang sekali hatiku ketika menyadari bahwa aku ini terlihat masih muda. Lumayan bisa irit umur hihihi. Sedangkan kamar yang satu lagi di belakang dihuni oleh Nisa dan Elly, dua adik kakak beda ayah yang saling menyayangi. Maka kami berenam adalah penghuni baru kosan biru dengan aku sebagai kepala sukunya.

Malam menjelang ujian masuk, aku hanya mendengarkan teman-temanku asik belajar bersama. Tika yang ceria dan selalu banyak ide untuk diobrolkan menjadi tutorku, begitu pun teman kosanku yang lain baik yang pendiam maupun yang setengah diam berusaha sekuat tenaga untuk menolong Teteh barunya ini.

“Iki humerus. Iki  os  radius, ulna, karpal,metacarpal, phalangs.” Katanya sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah tulang lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, telapak dan jari-jari.

Aku heran melihat mereka sudah banyak mengerti istilah-istilah itu. Apakah mereka sudah mengadakan persiapan untuk sekolah di sini, makanya mereka bayar dimuka belajarnya. Daripada salah nebak, kutanyakan keherananku pada mereka.

“Kami, kan, sudah belajar ini di pelajaran biologi, Teh.” sahut Tika ketika kutanyakan keherananku.

“Memang Teteh belum pernah belajar di sekolah, ya?” lanjut Tika.

“Iya, waktu SMA kan Teteh jurusan sosial, jadi ga tahu sama sekali istilah-istilah tulang.”

“Tenang ,Teh, nanti kami ajar no,”  katanya menenangkanku.

Karena penggunaan bahasa Jawa yang intenstif di antara teman-teman kosku, maka baru semalam saja bersama mereka, aku sudah punya beberapa kosa kata bahasa Jawa, seperti: sido artinya jadi,  kalo ga jadi bahasa Jawanya “gak sido”. Wedi=takut, arep=mau, neng=ke, sego=nasi, teko=datang, takon=tanya, adus=mandi, iwak=ikan,pitik=ayam, aku disek=aku dulu. Yang lucu kalo aku sedang mandi terus ada yang ngetok sambil nanya, “sopo seng neng jeding?” aku suka ketawa. Tentu saja jeding di sini maksudnya kamar mandi, sedangkan yang ada di otakku adalah jeding dalam bahasa Sunda. Dalam bahasa Sunda jeding berarti bibir yang bengkak akibat benda keras atau tersengat lebah.

****

Enam personil kosan biru dengan bimbingan dari Ibu dan Bapak kos akhirnya bisa membina pergaulan yang kompak . Kosan yang berada di sayap kanan rumah utama yang ditinggali Ibu dan Bapak kos terdiri dari ruang tamu berjendela lebar, lalu memanjang ke belakang berendengan dua kamar, diikuti dapur dan satu kamar mandi. Di samping dapur dan kamar mandi adalah kamar yang dihuni dua orang yang menjadi kakak beradik karena pernikahan orangtua mereka. Sinar matahari pagi tidak pernah malu-malu memasuki setiap ruang di kosan kami, karena kosan ini berdiri dengan konsep rumah yang sehat, yaitu berjendela dan berventilasi yang cukup baik.

Masih mengenai rumah kosku.  Di dapur kosan kami ada sebuah pintu tak berdaun pintu. Jika ada penghuni kos yang mandi dan baru keluar dari kamar mandi setelah tamat menyanyikan lagu sebanyak satu album, maka lewat pintu itu lah para personil yang lain gak bisa menunggu satu album lagu diselesaikan oleh sang biduan terpaksa mandi di kamar mandi Ibu kos. Pintu itu juga biasa kami gunakan untuk ikutan nonton TV di rumah Ibu kos atau minta air panas, atau yang parah lewat pintu itulah Bapak kos bisa melihat betapa amburadulnya kosan kami. Kalau sudah begitu akhirnya Bapak kos yang rajin bebenah ini lah yang membenahi kosan kami. Yah, ini terjadi bila para petugas piket di kosan biru lupa melaksanakan tugasnya pada pagi hari karena buru-buru pergi ke kampus. Untung lah masih ada secercah malu di hati kami, sehingga hanya sekali itu saja Bapak kos yang sabar ini menyapu, membuang sampah dan mengepel kosan kami. Oh, malunya..

Tak jauh dari kosan kami, tepatnya di depan rumah kosan, melintas rel kereta api.  Suatu malam di awal menginap di kosan, aku terbangun kaget dibangunkan bunyi gemuruh yang menggetarkan bangunan rumah. Ternyata suara itu berasal dari kereta yang lewat. Aku berpikir, pada malam hari kereta apa yang lewat. Memang ada jadwal kereta antar kota yang melintas pada jam 2 dini hari? Merinding bulu kudukku. Kulihat Santi yang tidur di tempat tidur terpisah masih nyenyak tertidur, tidak terganggu oleh suara gemuruh keras kereta yang memekakkan telinga. Penghuni kos yang lain pun rupanya terlelap dalam tidurnya sehingga tidak ada seorang pun yang bersuara. Pagi harinya baru kutahu  dari ibu kos bahwa kereta itu adalah kereta barang yang beroperasi pada malam hari. Setelah itu, malam-malam berikutnya aku bisa tidur dengan tenang  tanpa merinding bulu kudukku.

Pada sore hari  biasanya kami berkumpul di ruang tamu, mengobrol atau sambil belajar bersama. Pernah pada suatu sore yang hujan, ketika personil kosan biru sedang berkumpul  sambil mata kami melihat pemandangan di luar lewat jendela lebar ruang tamu, kami melihat ada seorang pedagang bakso yang sudah sepuh terhuyung-huyung mendorong gerobaknya. Pada saat itu seketika kami terdiam melihat pedagang itu. Hati kami merasa iba padanya.  Lalu seorang teman berseru.

“Dibantu yo, arek-arek tuku bakso Bapak iku, yo!”

Sejak  itu setiap ada pedagang yang sudah sepuh melintas di depan kosan, kami pasti membeli dagangannya. Kami berprinsip kalau pun kami tidak bisa membantu para orang tua yang masih berjuang di hari tuanya itu, minimal dengan membeli dagangannya, kami bisa membantu meringankan beban berat dagangannya juga dalam rangka menyalurkan sedikit rejeki buat mereka dengan membeli dagangannya.

Di suatu sore yang basah kami juga pernah melihat ada segerombolan anak sekolah yang sedang hujan-hujanan. Karena mereka tidak sadar di balik jendela kosan kami sebenarnya ada 6 nyawa sedang memperhatikan gerak gerik mereka.

“Eh, kosan ne koyo kolam renang, yo!”  kata salah satu dari mereka ketika melihat nuansa biru laut yang mendominasi kosan kami, mulai dari pagar, cat tembol, hingga paving block yang mentupi tanah halaman rumah! Untung genteng dan kaca masih pada warna aslinya ya? hihi.

Sontak mendengar komentar itu kami tertawa.

“Ide apik iku,yo’opo lek kosan kene di jenengi kosan kolam renang,” ujar Tika bersemangat.

Akhirnya Kosan Kolam Renang muncul sebagai nama kosan kami, namun nama ini hanya untuk kalangan pribadi, karena kalau sampai Bapak kos tahu, pasti beliau akan memelototkan matanya  yang membuat kami terdiam dan hati kami deg-degan, lalu setelah melihat kami dalam kondisi menyedihkan itu Bapak kos pasti akan tertawa lebar. Ya itulah kebiasaan sikap yang ditunjukkan Bapak kos yang baik hati ini kepada kami, namun kami selalu saja lupa dengan hobinya menakut-nakuti kami.

Di kosan Kolam Renang selain ada piket membersihkan rumah juga ada piket memasak. Wah, baru kali ini ada yang selalu memuji masakanku! Dialah Bapak kosku yang tatkala mencicipi masakan andalanku  yaitu nasi goreng, beliau pasti curhat pada ibu kos. “Bumbu ne pas! kata Ibu kos suatu hari sambil menunjukkan jempolnya, menirukan gaya Bapak. Sayang ya Pak,  anak kos Bapak ini hanya mampu masak nasi goreng, jadi nasi gorenglah masakan terenak yang pernah kubuat, selain masak indomie berbagai rasa tentunya haha.

Tak lama saat kami ada di Malang, kami bertemu Ramadhan. Karena jauh dari masjid, maka kami solat berjamaah dengan aku sebagai kepala suku didaulat secara aklamasi sebagai imam tetap untuk semua waktu solat . Setelah solat tarawih dan witir lalu kami sepakat mengadakan acara kultum alias kuliah tujuh menit. Sang pembawa kultum adalah kami berenam, jadi setiap harinya kami bergilir belajar menjadi ibu guru. Kulihat teman-temanku bersemangat belajar untuk mempersiapkan diri membawakan kultum. Mereka juga belajar berbicara di depan umum, walaupun yang dihadapi hanya 5 orang, namun itu sudah cukup untuk latihan berbicara dan belajar menjadi guru bagi mereka.  Kegiatan ini menjadi kegiatan favorit bagi temen-temanku.  Mereka jadi tahu bahwa menjadi guru adalah cara belajar yang efektif dan terbaik sedunia!

Di samping kanan rumah Ibu kos ada pavilion kecil yang dihuni oleh seorang Mbak. Aku jarang sekali melihatnya.  Akhirnya suatu hari aku dapat kesempatan untuk berkenalan dengan Mbak yang jarang ke luar kamar ini tatkala ia mau ke kamar mandinya yang terletak berdampingan dengan kamar mandi Ibu kos. Namanya Mbak Ayu. Ia bekerja sebagai PNS di sebuah departemen. Karena tahu diriku ini orang jauh, maka dengan senang hati Mbak Ayu yang sudah lama tinggal di Malang mengajakkku jalan-jalan mengelilingi Malang.  Ia sengaja menyewa taksi untuk acara jalan-jalan ini. Dari sinilah aku jadi tahu banyak tentang Mbak Ayu.

Ternyata Mbak Ayu yang terlihat ceria ini adalah seorang wanita hebat! Begitu banyak cobaan yang Mbak Ayu terima, seperti jatuh berkali-kali sehingga ia harus dioperasi berkali-kali pula. Ketika jalan-jalan pun sebenarnya tangannya masih dibalut karena pen belum dicabut akibat jatuh dari kamar mandi. Mbak Ayu pernah menikah namun sudah bercerai. Si Mbak tidak  memiliki anak, sehingga di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia hanya seorang diri di kosannya. Karena cape kerja dari pagi sampai malam juga kondisi fisiknya yang selalu terkena musibah patah tulang, maka tidak ada waktunya untuk bertegur sapa dengan penghuni kosan kami atau mengobrol dengan Ibu dan Bapak kos. Hidupnya terlihat sepi, namun terlihat ia sudah mempersiapkan diri untuk melanjutkan hidupnya seorang diri dengan penuh keceriaan dan kepasrahan.  Sutau hari aku pernah diperlihatkan koleksi pen-nya yang banyak. Ternyata pen itu terbuat dari besi sepeti mur dan baut. Aku tidak bisa membayangkan benda keras itu bisa ditanam di dalam tubuh manusia.

Mendengarkan cerita Mbak Ayu yang selalu ditimpa musibah tapi tetep bisa ceria, seakan diriku sedang diingatkan Yang Maha Pengasih bahwa hidupku ini masih penuh dengan limpahan nikmat dan rahmat-Nya.

Terjemahan:

dibantu yo, arek-arek tuku bakso yo : Bantu, yuk teman-teman ! Kita beli baksonya

Ide apik iku,yo’opo lek kosan kene dijenengi kosan kolam renang: ide bagus tuh, bagaimana kalau kita namakan kosan kita kosan kolam renang Pindah kos

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Novel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s