Museum Etnobotani Indonesia

Ada yang tahu di mana lokasi Museum Etnobotani Indonesia?  Kalau saya ditanya seperti itu pasti akan menjawab di Jakarta. Kalau jawaban itu salah akan saya jawab di Bandung, di Medan atau tebakan kota besar lainnya. Ternyata museum itu berada di kota Bogor, kota kelahiran dan kota pertumbuhan saya. Letaknya pun tidak jauh dari almamater di mana saya dulu menimba ilmu. Namun setelah lama jadi warga Bogor, baru kemarin siang saya memasuki museum yang merupakan Museum Etnobotani satu-satunya di Indonesia ini.  Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengajak saya ke sana dan tentunya tidak ada keinginan dari saya untuk memasuki gedung yang berada di Jalan Ir. H. Juanda 22-24 Bogor itu.

Museum ini bernama Etnobotani merujuk pada arti Etnobotani, yaitu cabang ilmu tumbuh-tumbuhan yang mempelajari hubungan antara suku-suku asli suatu daerah dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Maka salah satu tujuan dari berdirinya museum ini adalah untuk memberikan informasi tentang berbagai bentuk pemanfaatan tumbuhan oleh suku bangsa di Indonesia.

Museum yang berada di lantai dasar yang rencana ke depannya akan mengisi lantai-lantai di atasnya berada dalam satu gedung yang bernama Herbarium Bogoriense dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1982 oleh Menristek BJ Habibie. Saat ini koleksi museum yang hanya buka pada hari kerja ini berjumlah 1700 benda yang diberi nomor dan dipamerkan dalam ruang kaca. Benda-benda yang disimpan di museum ini diambil saat para peneliti mengadakan riset di berbagai daerah, diambil sample-nya, diawetkan lalu disimpan di museum.

Bila kita datang rombongan ke museum ini maka akan ada seorang pemandu yang akan menjelaskan serta menunjukkan benda-benda, baik yang ada dalam ruang kaca maupun yang dipamerkan di luar.

Pertama-tama sang pemandu akan menunjukkan koleksi simplisia (herbal atau bahan obat dalam bentuk kering)  yang disimpan dalam botol kaca. Menurut sang pemandu, museum ini memiliki 5000 koleksi simplisia herbal. Pemandu juga menunjukkan koleksi herbarium kering dan basah yang sebagian besar ternyata sudah diangkut dan disimpan di kantor Puslit Biologi LIPI yang sekarang pindah ke Cibinong.

Untuk membuat herbarium basah, media yang digunakan sebagai pengawet berupa alcohol 70 persen, sedangkan herbarium kering bisa di-oven atau seperti yang pernah kita lakukan ketika masih SD adalah di-press di antara kertas Koran.

Herbarium berarti tumbuhan yang diawetkan.  Mengapa gedung yang sekarang hanya dipakai untuk museum Etnobotani ini  bernama Herbarium Bogoriense adalah karena Belanda yang mementingkan dan memperhatikan kearsipan ternyata juga mengarsipkan tumbuhan yang ada di  ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg (Kebun Raya Bogor). Maka bagian tanaman yang sudah diawetkan itu diarsipkan di Herbarium Bogoriense.

Setelah puas melihat herbarium, lalu pemandu mengarahkan pengunjung untuk melihat perahu tradisional yang dibuat dari kayu pohon kapas. Menurut sang pemandu, perahu kayu ini dibawa oleh peneliti Jepang. Saat itu si peneliti membawa dua perahu, yang satu diberikan untuk Museum Etnobotani, yang satunya lagi dibawa ke Jepang. Bisa kita lihat, suatu barang yang terlihat tidak berharga dan biasa bagi kita, hanya sebuah perahu kayu, ternyata buat orang luar sana sangat berharga untuk pengetahuan. Lalu pengunjung bergerak melihat benda-benda yang di-display dalam ruang berkaca. Ada benda-benda yang terbuat dari bamboo, pandan, kelapa dan labu.  Kita bisa tahu bahwa koteka yang dipakai oleh masyarakat suku-suku di Papua ternyata terbuat dari kulit buah labu. Di sini juga ada benda-benda pertanian yang sering disebut dalam pelajaran bahasa Sunda SD. Ada baiknya siswa sekolah melihat langsung benda-benda yang selama ini hanya dipelihatkan dalam gambar atau bahkan hanya disebutkan pengertiannya saja, tanpa tahu bagaimana bentuk benda tersebut.

Di museum juga ada contoh pakaian suku pedalaman yang bahannya terbuat dari tumbuhan. Ada juga soga batik, yaitu batik dengan bahan pewarna alami dari tumbuhan.

Salah satu alasan mengapa saya tidak pernah datang ke museum ini sebelumnya adalah karena museum ini selalu terlihat sepi. Entah mengapa banyak museum di Indonesia selalu sepi pengunjung. Padahal rata-rata tiket masuk museum murah. Maka tidak heran bila Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Herdiwan Iing Suranta, kecewa tatkala mengetahui dari 75 siswa sekolah dasar yang diundang sebagai peserta lokakarya museum di Museum Sri Baduga, Bandung pada awal Desember 2011 hanya ada empat siswa yang tunjuk jari mengaku pernah mengunjungi museum. Jadi ini adalah tugas pemerintah dan pengelola museum untuk memikirkan bagaimana  agar museum menjadi tempat yang menarik sehingga bisa dijadikan salah satu sumber pembelajaran bagi siswa. Dan tentunya kita juga sebagai masyarakat Bogor turut mensosialisasikan museum agar kasus orang Bogor tidak tahu di mana Museum Etnobotani Indonesia berada tidak terulang kembali.

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s