Menapaki Jejak Sang Naga di Bogor

Di hari Minggu pagi yang cerah, bertepatan dengan tanggal 26 Pebruari 2012,  sekitar 35 anggota Komunitas Napaktilas Peninggalan Budaya memulai acara Napak Tilas (NT)  yang ke-7 dengan tema “Menapaki Jejak Sang Naga”. Tema tersebut tentu saja tidak diartikan secara leterlek atau arti sebenarnya, namun berkaitan dengan jejak keberadaan etnis Tionghoa di Bogor yang pada awal Pebruari lalu baru saja merayakan Cap Go Meh.

Adapun rute yang ditapaki pada NT kali ini tergolong pendek, yaitu menyusuri gedung-gedung tua peninggalan Belanda yang terletak di Jalan Ir. H. Juanda Bogor. Dimulai dari Museum Zoologi  yang pada decade 80-an dikenal dengan sebutan Kantor Bulao (bulao= biru),  dibangun pada tahun1894. Kantor Bulao berdiri sejajar dengan gedung BBIA (Balai Besar Industri Agro, dibangun pada tahun 1890) dan Kantor Konservasi Hutan & Perlindungan Alam Departemen Kehutanan yang dulu bernama gedung Hoofdkantoor van Het Boswezen te Buitenzorg yang dibangun pada tahun 1912. Di sampingnya terdapat pintu gerbang menuju Kebun Raya Bogor. Di seberang gedung BBIA ada gedung Balittanah atau BB Litbang Sumber Daya Lahan yang didirikan pada tahun 1905. Di sampingnya berdiri gedung Kantor Planologi Kehutanan yang didirikan pada tahun 1912.

Setelah melewati gedung-gedung tua di atas, lalu kami berjalan menuju Jalan Surya Kencana di mana berdiri Vihara Hok Tek Bio atau dikenal juga dengan nama Vihara Dhanagun. Lalu lanjut ke belakang Vihara di mana terdapat Pasar Bogor. Di belakang Pasar Bogor terdapat bekas Hotel Pasar Baru  dan bekas rumah seorang letnan China yang terletak di Jalan Klenteng. Lalu rute berlanjut menuju jalan Roda – Simpang Gang Aut dan berakhir di Vihara Dharmakaya Jalan Siliwangi.

Klenteng Hok Tek Bio (Vihara Dhanagun)

Dilihat dari namanya, Hok Tek Bio berasal dari bahasa China Hokkian yang berarti rumah ibadah yang berlimpah rejeki dan kebajikan. Sedangkan Dhanagun berarti sifat beramal dan sifat kebajikan.

Sebenarnya Klenteng dan Vihara adalah dua tempat beribadah yang berbeda. Vihara tempat ibadah umat Buddha sedangkan Klenteng atau bio atau Chinese temple adalah tempat menyembah dewa-dewa China.

Menurut narasumber, Bapak David Kwa dan Bapak Mardi Lim, tempat peribadatan ini dinamakan klenteng karena merupakan tempat ibadah dari penganut tiga ajaran yang disebut Sam Kauw, yaitu Khonghucu, Tao dan Buddha.  Agama orang Tionghoa dipengaruhi tiga ajaran itu. Hal ini juga berlaku pada semua tempat ibadah orang Tionghoa yang didirikan sejak berabad lalu. Namun pada masa orde baru ajaran yang berbau Tionghoa ditekan habis-habisan, maka dari tiga ajaran hanya Buddha saja yang diakui pemerintah. Karena agama Buddha berasal dari India dan dianggap bukan agama khas Tionghoa, maka klenteng terpaksa mengganti nama menjadi vihara atau Buddhist temple dan menginduk kepada agama Buddha sebagai pengayom.  Pada waktu itu agama Tao dan Khonghucu tidak diakui di Departemen Agama. Setelah almarhum Presiden Abdurrachman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres 14/67, Khonghucu diakui sebagai agama namun Tao tetap belum, meski prakteknya Tao tetap dijalankan dalam kehidupan sehari-hari orang Tionghoa.

“Meski larangan terhadap (agama dan praktek keagamaan yang berasal dari) budaya Tionghoa sudah dicabut, kebanyakan klenteng di Jakarta-Jawa Barat masih tetap menyandang nama vihara, karena sudah terbiasa dan untuk mengganti nama vihara menjadi klenteng kembali butuh waktu, tenaga dan tentunya materi. Jadi dibiarkan saja lah,” tutur Bapak David Kwa prihatin.

Bangunan yang didominasi warna merah ini diperkirakan dibangun pada abad ke-18 ketika etnis Tionghoa sudah banyak yang bermukim di sekitar Pasar Bogor. Menurut Pak Mardi Lim, pada awal didirikan, ada bagian-bagian bangunan klenteng yang sebenarnya tidak dilapisi cat, seperti sisik naga yang ada di ujung atap, sebenarnya terbuat dari pecahan keramik yang dibentuk secara halus. Namun akibat cat emas itu, keindahan keramik yang merupakan hasil karya seni yang bernilai tinggi menjadi tidak terlihat.

Setelah puas diajak keliling klenteng dan sajian makanan vegetarian yang disuguhkan kepada kami, lalu kami berjalan ke belakang menuju pasar Bogor yang menjadi tempat cikal bakal datangnya etnis Tionghoa mencari rejeki. Di belakang Pasar Bogor terdapat rumah besar peninggalan letnan China dan hotel yang sudah merana.

Pasar Bogor

Merujuk pada tema di atas, maka start NT seharusnya dimulai dari Pasar Bogor, karena dengan adanya pasar ini lah maka banyak etnis Tionghoa yang bermukim di Bogor. Namun karena gedung-gedung tua peninggalan Belanda di atas berada tidak jauh dari pecinan Bogor, maka (walaupun tidak nyambung) kami pun sekalian menapaktilasi jejak Belanda di Bogor.

Pasar Bogor cukup terkenal di kota Bogor. Dan ternyata sejak jaman Belanda pasar ini sudah bernama asli Pasar Bogor. Saat itu Pasar Bogor berdiri di tengah kampung yang  terletak dekat Istana Buitenzorg (Istana Bogor)  dan tidak jauh dari aliran Sungai Ciliwung. Kampung itu bernama Kampung Bogor. Oleh karena berada di Kampung Bogor, maka tidak heran bila pasar ini dinamakan Pasar Bogor. Pasar Bogor dibuka pada tahun 1777 yang pada awalnya berfungsi hanya seminggu sekali. Walaupun hanya seminggu sekali, Gubernur Jenderal mendapatkan keuntungan sebesar 8000 ringgit dari hasil sewa pasar ini. Karena ramai, maka Pasar Bogor menarik banyak orang untuk berdagang, termasuk dari etnis Tionghoa.

Hotel Pasar Baroe

Hotel dengan model arsitektur bergaya Indis, kombinasi gaya Tionghoa, Eropa, dan lokal yang memiliki dua lantai ini terletak di Pasar Bogor. Kemungkinan berdiri pada abad ke-19 setelah jalur kereta api Batavia-Buitenzorg dibangun pada tahun 1881. Pada saat itu di Bogor terdapat 4 hotel yang menjadi tempat persinggahan pelancong, yaitu Hotel Bellevue (sekarang menjadi Bogor Trade Mall), Hotel Dibett (sekarang Hotel Salak) dan Hotel du Chemin (sekarang kantor Polisi Mapolres Bogor) yang sering didatangi turis dari Eropa serta Hotel Pasar Baroe bagi pelancong Arab dan Tionghoa.

Dari balik kaca lantai dua hotel yang didominasi material kayu ini, para pengunjung dapat menikmati keindahan pemandangan Gunung Salak, Gunung Pangrango dan Gunung Pancar. Namun sayang sekali, kita tidak bisa menikmati nostalgia masa lalu menikmati keindahan warna biru hamparan gunung dari balik jendela kaca hotel ini, karena hotel ini sekarang sudah rapuh dan kumuh, berdiri di belakang tempat penampungan akhir sampah pasar yang terlihat sangat kotor. Bila tidak segera diselamatkan, maka hotel yang dulu pastinya indah ini pun akan segera menghilang menjadi kenangan bagi segelintir orang yang  pernah merasakan keindahannya dan yang tahu keberadaannya.

Rumah luitenant China di Bogor

Rumah ini terletak di ujung Jalan Klenteng, dekat dengan Hotel Pasar Baroe. Rumah ini adalah milik Letnan China Lie Beng Hok (masa jabatan 1912-1913) di jaman Kapitan China Tan Tjoen Tjiang. Namun rumah besar dan masih seperti bentuk aslinya ini tampak tidak berpenghuni. Hanya Laksa Pak Obit Gondrong yang mangkal di depannya saja yang setia menemaninya.

Acara NT lalu berlanjut menuju Jalan Siliwangi. Rute ini membawa kami menuju tempat kuliner asinan Bogor yang direkomendasikan Jalan Sutra. Selain asinan khas Bogor yang sudah terkenal, ada juga pedagang asinan jagung bakar dan bir kotjok yang mungkin berasa seperti bir namun minuman ini terbuat dari jahe dan kayu manis. Di tempat ini perjalanan menjadi tersendat karena hujan saat itu, namun hujan telah memberi kesempatan pada kami untuk mencicipi kuliner yang ada di sana (foto-foto bisa dilihat di slideshow di bawah).

Vihara Dharmakaya

Bangunan klenteng yang berbentuk seperti villa karena terdapat menara dan berarsitektur kombinasi Eropa, Tionghoa dan local ini dibangun atas sumbangan dari mendiang ibu tuan tanah Kwitang yang bernama Teng Oen Giok pada awal tahun 1940-an yang didermakan untuk Ma Suhu Tan Eng Nio seorang biarawati yang tidak memotong dan mengikat rambutnya dan selalu memakai pakaian putih dan memakai kain batik panjang.

Melihat dari jejak tapaknya, maka tidak heran bila sepanjang Jalan Suryakencana hingga Jalan Siliwangi Bogor banyak bermukim etnis Tionghoa. Mungkin karena orang China yang beremigrasi ke Indonesia banyak yang bermata pencaharian sebagai pedagang, maka keberadaan mereka berawal dari adanya pasar. Lalu  setelah banyak yang bermukim di sekitar pasar dibangunlah tempat peribadatan, sehingga banyak di antara mereka hidup tidak jauh dari kedua tempat tersebut dan menjadi pecinan hingga saat ini.

posted also on http://sejarah.kompasiana.com/2012/02/29/menapaki-jejak-sang-naga-di-bogor-443203.html

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s