Lembang, Sekali Berangkat Enam Tempat Dikunjungi

Jalan-jalan ke Bandung pada hari libur? Wuah, pasti yang terbayang adalah kemacetan, sehingga untuk mencapai satu kawasan wisata saja memerlukan waktu seharian. Eit, jangan salah, berwisata di Bandung ternyata ada yang tidak harus menderita terkena macet, loh! Di kawasan Lembang Bandung lah tempat yang tepat untuk rekreasi tanpa harus gemas terkena macet. Karena tidak terkena macet dan antar objek wisata berjarak berdekatan, maka dalam sehari kita bisa mengunjungi banyak objek wisata.

Pada hari Minggu 17 Juli kemarin, saya dan tiga orang teman dengan ditemani saudara salah satu teman saya, seharian berwisata di wilayah Lembang yang terkenal dengan udaranya yang dingin itu. Tempat yang kami kunjungi adalah Kampung Gajah, Kampung Daun, Sapulidi, Rumah Produksi Tahu Susu Lembang, De Ranch dan rumah kue pia So-Phia.

Kampung Gajahlembang

Jangan bayangkan suasana di perkampungan ini seperti di Way Kambas Lampung.

Memang di kampung ini banyak gajah, tapi gajahnya patung semua! Itu pun gajahnya mejeng berderet di jalan sebelum masuk ke kawasan wisata ini. Hanya ada satu gajah besar menghadap pintu masuk, tapi gajah ini tetap tidak bergerak-gerak saat panas atau pun dipegang-pegang buntut dan belalainya oleh para pelancong saat berpoto ria.

Kami tidak tahu mengapa kawasan wisata ini dinamakan Kampung Gajah. Kenapa tidak dinamakan Kampung Kucing, Beruang atau kampung orangutan? Yang menandakan penamaan gajah di tempat rekreasi dengan mengusung tema Wisata, Belanja dan Kuliner ini adalah hanya patung-patung gajah yang mejeng di sana.

Kampung Gajah yang dulu bernama Century Hills ini terletak di Jalan Sersan Bajuri, tidak jauh dari depan Terminal Ledeng (KM 3,8). Tiket masuk objek wisata ini untuk perorang dan mobil adalah Rp 10.000. Di sini kita bisa menemukan banyak permainan seperti Aquaboat, ATV (all train vehicle), delman, horse riding, playground, skyrider, dll.

Kampung Daunlembang2

Tak jauh dari Kampung Gajah, kami tiba di Kampung Daun. Judulnya saja Kampung Daun, maka tidak heran bila nuansa daun di sebuah pedesaan Sunda di sebuah lembah lengkap dengan rumah saung juga suara gemericik air juga music khas Sunda menemani kami selama kami berada di sana. Kampung yang buka Senin – Jumat 11.00 – 23.00 serta Sabtu – Minggu 11.00 – 00.00 ini menawarkan kuliner masakan Sunda serta luar negeri (karena ada pizza-nya). Di kampung ini banyak saung-saung yang bisa kita booking sebagai tempat santai sambil menikmati santap siang bersama teman atau keluarga.

Setelah keliling kampung, kami memesan makanan dengan cara membunyikan kentongan yang ada di saung. Salah seorang teman saya memukul kentongan tanpa rasa  malu-malu kucing, maka tak lama kemudian seorang petugas ber-name tag mendatangi saung kami. Entah sensor apa yang menggerakkan sang petugas di sana, sehingga mereka tahu bahwa kentongan yang berbunyi seperti intro bunyi bedug itu berasal dari saung kami hehe.

Harga makanan di sana seperti harga café, mahal! Minuman bandrek yang saya pesan yang menggunakan tempat minum dari batok kelapa kecil seharga Rp 8.500, karedok seharga Rp 17 ribuan, dan Pizza khas kampung daun seharga Rp 35 ribu. Ya mungkin karena tidak ada tiket masuk ke kampung ini, maka biaya untuk menikmati suasana di sana dibebankan pada harga makanannya.

Saung-saung yang ada di sana dilengkapi dengan kasur busa kecil, membuat salah satu teman saya berkhayal seandainya kantornya tidak jauh dari Kampung Daun, pasti dia akan mampir di sana saat jam makan siang sekaligus bobo siang dan tidak balik lagi ke kantor hahaha.

Sapulidilembang3

Masih berada di Jalan Sersan Bajuri, tidak jauh dari Kampung Daun kami tiba di Sapulidi. Sapulidi sebenarnya merupakan restroran bernuansa alam pedesaan, dengan rumah-rumah Sunda yang seperti Leuit (gudang beras) dengan atap terbuat dari jerami. Konsep yang ditawarkan sebenarnya Makan di Tengah Sawah, namun kami hanya menemukan satu sawah saja yang terletak tak jauh dari pintu masuk.

Di Sapulidi ini kami menemukan banyak rumah-rumah tradisional yang disewakan bagi pengunjung. Ada juga perahu di danau yang sayangnya warnanya sudah berubah menjadi hijau. Harga makanan di Sapulidi tentu saja sama dengan Kampung Daun, harga Pertamax! hehe. Yah, itu karena saat masuk resto ini tidak dikenai bea masuk, jadi harga masuk sudah dibebankan di harga makanan tentunya.

Rumah Produksi Tahu Susu Lembang

Tak jauh dari Sapulidi, Teh Yeti, saudaranya teman yang baik hati, lanjut mengantarkan kami ke Rumah Produksi Tahu Susu Lembang. Di tempat yang menawarkan banyak kuliner khas Bandung seperti mie kocok dll ini kami melihat ada pabrik pembuatan tahu. Di dalam pabrik itu sudah ada tulisan-tulisan yang menunjukkan tahap-tahapan pembuatan tahu. Namun jangan aneh bila tahu yang diproduksi di sana adalah tahu yang terbuat dari kedelai, bukan tahu yang terbuat dari full susu  seperti judul dari rumah produksi ini.  Saya sempat mencoba tahu di sana. Teksturnya memang halus, seperti susu. Mungkin karena itulah tahu di sana disebut tahu susu. Menurut teman saya yang dipoto dekat papan tulis cara pembuatan tahu, memang salah satu bahan dari pembuatan tahu ini adalah susu. Oh, jadi tidak aneh ya jika tahunya disebut tahu susu.

Selain tahu susu, Rumah Produksi Tahu Lembang ini juga menyediakan berbagai kuliner. Harga makanannya tidak mahal, sama seperti harga jajanan di tempat biasa. Tapi untuk wedang rondenya saya rasa agak mahal dari wedang ronde yang pernah saya coba di Bogor hehe.

De Ranchlembang4

Yiihaa, akhirya saya bisa ke De Ranch, euy! Tempat wisata yang menawarkan suasana daerah peternakan Amrik ini masih terletak di Lembang arah Maribaya. Di sini sebenarnya kami bisa belajar naik kuda, namun berhubung waktu sudah sangat sore dan dingin yang menyengat, maka kami cukup melihat-lihat kuda serta bernarsis ria saja. Harga tiket masuk cukup murah yaitu Rp 5000 yang kemudian karcis masuknya bisa ditukar dengan segelas susu murni dingin.

Rumah Kue Pia So-Phia

Tempat terakhir yang kami kunjungi selama di Lembang adalah Rumah Kue Pia So-Phia. Karena tempat ini yang terdekat dari de Ranch untukmembeli oleh-oleh.

Kue pia ini berbeda dengan pia yang ada di Yogya maupun Malang. Kekhasannya adalah pada tumpukan kulit So-Phia seperti kulit molen pisang keju, tetapi tipis dan sensitif. Ini terbukti ketika kue ini terbelah, si kulit permukaan atas ternyata mudah sekali lepas dan dalaman kue ini tempos alias berongga atau tidak padat berisi hehe.

Kisaran harga bakpia per kotak mulai Rp 30.000 sampai Rp 35.500, tergantung rasa yang dipilih. Pilihan rasa isi terdiri atas kacang hijau, nanas, coklat, keju, dan durian.

Nah, jadi asik kan jalan-jalan seharian kami saat itu. Dalam waktu sehari kami bisa mengunjungi 6 tempat sekaligus di Bandung! Jadi benar kata Ina di status FB-nya saat itu, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui! hahaha. -1T

**Photos are stolen from Tika Naibaho’s album

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Jalan-jalan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s