Jumpa Lebih Dekat dengan Penulis Dunia Sophie

Suatu hari saya menulis pengalaman dimarahi oleh seorang guru karena pertanyaan tidak bermutu yang saya ajukan padanya. Lalu tak lama setelah posting tulisan itu di blog, seorang teman yang membaca tulisan saya menulis semacam review buku favoritnya di bolg-nya. Buku favoritnya itu berjudul Sophie’s World. Di balasan komentar saya di review-nya itu, ia sangat merekomendasikan buku itu untuk saya baca. Saya penasaran mengapa buku itu harus saya baca. Lalu saya merayu seorang teman saya yang lain untuk membeli buku itu ketika kami sedang berada di sebuah toko buku.

Mungkin Karena saya bukan seorang avid reader seperti Thomas Alfa Edison dan para penggemar buku lainnya, maka tidak heran saat baca buku itu  saya mabuk tidak bisa mencerna dengan baik isi buku yang merupakan novel filsafat itu. Namun akhirnya dengan menggunakan langkah pertama dari lima  langkah  metode baca SQ3R (hanya survey saja maksudnya hehe) akhirnya saya bisa menamatkan buku yang ditulis oleh Jostein Gaarder, penulis asal Norwegia yang tadi siang datang ke Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta.

Buku yang ditulis pada tahun 1991 dan masuk ke Indonesia tahun 1996 dan menurut penulisnya telah diterjemahkan ke dalam 60 bahasa merupakan buku best seller duniamengalahkan The Celestine of Prophecy-nya James Redfield.

Point  penting yang bisa saya tangkap dari buku  yang menceritakan tentang sejarah filsafat ini adalah jadilah seorang filosof sejati dengan selalu mempunyai rasa keinginan tahu yang besar, seperti halnya balita yang mempunyai keinginan tahu yang besar. Setelah dewasa biasanya manusia suka merasa segala sesuatu itu sudah semestinya seperti itu.

Entah kebetulan atau memang sudah berjodoh, beberapa hari yang lalu ketika saya sedang googling berusaha men-download Dunia Sophie versi bahasa Inggris, saya menemukan Mr. Gaarder quotes. Kalimat yang membuat saya tercengang adalah ”It’s not a silly question if you can’t answer it.”

Saat itu saya merasa baru mengerti mengapa teman saya sangat merekomdasikan buku itu, tentunya karena ada hubungannya dengan kondisi saya yang dimarahi oleh guru saya hehe. Ketika sedang membaca kalimat itu, seorang teman  tiba-tiba saja memberitahu bahwa Mr. Gaarder akan datang ke Indonesia pada acara Jumpa Lebih Dekat dengan Jostein Gaarder hari Selasa 11 Oktober 2011 di Gramedia Matraman dan di kampus UI besok jam 10:00 – 12:00. Wah, ternyata semuanya serba surprise!

Dari obrolan Jostein Gaarder dengan pembawa acara dari penerbit Mizan tadi siang saya jadi tahu ternyata beliau memulai menulis bukan karena ingin menyampaikan pesan kepada para pembaca, namun dimulai karena pertanyaan-pertanyaannya tentang keanehan-keanehan yang ada di dunia ini. Hobi berpikirnya ini dimulai pada usia 11 tahun. Ia suka terkejut dengan pertanyaan aneh yang memenuhi otaknya. Ia merasa dirinya sebagai bagian dari misteri besar. Lalu ia tanyakan pertanyaan-pertanyaannya pada para orang dewasa, namun jawaban mereka adalah selalu “tidak ada yang aneh”. Karena jawaban yang tidak menjawab dari para orang dewasa itu maka Jostein kecil jadi tidak ingin menjadi orang dewasa.

Jostein juga menceritakan mengapa ia menulis novel filsafat.  Ia merasa tulisan filsafat sangat membosankan karena ditulis dalam bentuk textbook dan makalah-makalah. Walaupun orang Norwegia merasa filsafat itu penting namun mereka malas membaca buku yang terlalu akademis. Maka sebagai seorang guru filsafat, ia menuliskannya dalam bentuk sebuah cerita seorang anak kecil yang bertanya tentang siapa dirinya.  Mr. Gaarder yakin manusia diciptakan untuk menyerap cerita daripada menyerap textbook. Maka buku yang awalnya ia pikir bakal tidak laku itu ternyata menjadi bukunya yang paling menghasilkan. Kepopuleran bukunya ini membawa berkah bagi buku-bukunya yang lain, sehingga semua bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa lainnya.

Mr. Gaarder juga menceritakan mengapa tokoh dalam novelnya adalah anak perempuan bernama Sophie, karena Sophie dalam bahasa Yunani berarti kebijaksanaan. Filsafat merupakan upaya untuk mencari kebijaksanaan. Dalam mitologi Yunani pun ada dewi bernama Athena yang merupakan dewi kebijaksanaan.  Perempuan menurutnya memang memiliki kebijaksanaan  daripada laki-laki karena laki-laki biasanya selalu ingin banyak dimengerti. Lantas ada pertanyaan, kalau perempuan lebih bijaksana dari laki-laki tapi mengapa para filsuf kebanyakan laki-laki? Jawabannya adalah karena dulu perempuan tidak diperbolehkan  banyak belajar.

Acara yang diadakan pada saat jam kerja  dan diisi dengan diskusi dan book signing ini ternyata masih tetap dihadiri oleh banyak para penggemar karyanya. Tak heran bila mereka mau bersusah-susah membawa buku-buku Jostein Gaarder yang tebal-tebal dan antri menunggu giliran book signing dari si penulis  yang peduli pada masalah lingkungan hidup dan hak asasi manusia ini.

Mudah-mudahan suatu saat nanti saya bisa membaca semua karyanya dan bisa mencontohnya menjadi seorang filosof sejati dengan selalu mempunyai rasa keinginan tahu yang besar dan tentunya tidak kapok bertanya (karena takut dimarahi guru) kalau saya tidak tahu jawabannya hehe. 1T

diposting di kompasiana pada tanggal 11 Okt 2011

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s