Hidup itu Soal Keberanian

“Hidup itu soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, terimalah, dan hadapilah”. -soe hok gie-

Saya pernah mendaftar akan berobat ke  seorang dokter THT. Namun setelah daftar saya mendapat informasi dari seorang teman bahwa dokter THT tersebut orangnya jutek. Saya yang suka alergi bertemu orang jutek akhirnya mengurungkan niat datang berobat ke dokter tersebut walaupun saya sudah mendaftar.  Namun karena merasa perlu untuk memeriksa kesehatan telinga saya, akhirnya saya kembali mendaftar untuk kali kedua. Namun tatkala saya hendak menunggu di ruang tunggu prakteknya, seorang teman yang lain berkata bahwa dokter itu jutek.  Karena alergi saya itu, maka akhirnya saya pun kabur tidak jadi berobat. Mengingat rasa penakut saya ini harus segera ditaklukan, maka saya datan kembali untuk ketiga kalinya ke dokter tersebut. Kedatangan saya kali ini sebenarnya hanya ingin sekedar menundukkan rasa takut saya terhadap orang yang selalu disebut jutek ini.

Setelah nama saya dipanggil oleh sang asisten, dengan perasaan deg-degan saya pun masuk dengan mata langsung mencari wajah jutek sang dokter. Dokter ini memang sudah sepuh dan terlihat dingin. Saat telinga saya diperiksa saya hanya diam. Lalu diluar dugaan sang dokter berusaha memecah kebekuan dengan bertanya pekerjaan saya dll.  Ketika mengobrol ini yang keluar dari mulut beliau adalah berbagai pujian kepada saya. Jadi di mana ya juteknya?hehe.

Setelah pulang dari sang dokter saya merasa sukses. Bukan sukses karena pendengaran saya jadi cling setelah telinga saya dibersihkan sang dokter, tapi karena saya merasa telah menundukkan rasa takut saya bertemu manusia. Dan ternyata kenyataannya tidak seperti yang saya takutkan sebelumnya.

Dua hari yang lalu kembali saya merasa sukses. Bukan karena saya sukses mengajar para murid yang kritis-kirtis itu, tapi karena saya sukses telah berhasil menundukkan rasa takut saya.

Sebelum saya mengajar, teman-teman saya yang sudah senior memberikan pengalaman mereka menghadapi murid-murid yang kritis dan tanggap ini. Tentu saja saya menjadi gentar mendengarnya. Ingin pingsan rasanya bila mengingat hari H.  Saya pun berusaha sebaik mungkin mempersiapkan diri saya menguasai mata pelajaran yang akan saya ajarkan. Setelah semua persiapan  sudah cukup, saya hanya bisa pasrah dengan kejadian yang akan menimpa saya di depan kelas.  Dan ternyata memang murid-murid saya saat itu memang luar biasa, namun alhamdulillah saya mampu melampauinya dengan segala keterbatasan yang saya miliki.

Kalau saya tidak pernah mencoba nekad datang ke dokter yang katanya jutek itu, mungkin saya akan selalu ketakutan dan tidak akan pernah tahu bahwa dokter jutek itu ternyata bisa juga menyenangkan. Kalau saya tidak mencoba dengan terjun langsung datang dan berdiri di depan kelas selama dua hari itu, mungkin saya akan terus merasa tidak percaya diri dan takut mengajar para manusia pintar itu. Semua itu memang butuh keberanian, tentu saja keberanian yang sebelumnya diselipi  persiapan agar peristiwa mengenaskan tidak akan pernah terjadi.

Mungkin dua persitiwa di atas adalah dua hal yang masih dangkal. Di depan mata pastinya sudah menanti segala tantangan hidup yang memerlukan keberanian pula. Bila saya tidak pernah mencoba, mana saya tahu kalau saya ini bisa atau tidak.  Maka  beranilah dan hadapilah!

*nasihat untuk diri sendiri

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Curhat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s