Dari Seminar Parenting Bersama Bunda Elly Risman

Seorang wanita sarjana psikologi dan kolumnis di media terkenal di Indonesia ketika sedang berada di Amerika menemani suaminya yang sedang tugas belajar mencoba melamar menjadi guru TK dalam rangka ingin mengetahui bagaimana anak-anak Amerika dididik pada usia dini.  Tapi sayang ia ditolak karena tidak memiliki sertifikat pendidikan formal keguruan TK Amerika. Namun  dengan semangat pantang menyerah ia meminta untuk dijadikan asisten guru di sana, dan permintaannya ini dikabulkan. Ketika menjadi asisten balita di sekolah ini banyak hal yang bisa ia pelajari. Usia balita di sekolah ini mulai usia 2,5 tahun. Syaratnya untuk murid hanya tidak menggunakan celana jeans dan sudah bisa buang air kecil/besar sendiri.

Suatu hari salah seorang muridnya yang berusia 2,5 tahun ijin buang air kecil. Lama sang asisten guru yang lahir tahun 1951 ini menunggu sang murid. Lalu setelah pintu kamar mandi beberapa kali diketok, keluarlah si murid sambil sibuk mengkancingkan celana jeansnya. Tentu saja asisten guru ini akhirnya mengerti mengapa si murid lama di kamar mandi karena kesusahan mengkancingkan celananya. Melihat itu tentu saja ia menawarkan diri untuk menolongnya. Tanpa diduga si murid yang masih segede unyil ini berkata, “Do you think I am a baby? I can do it by myself!” Cerita ini adalah sebagian dari cerita pengalaman sang psikolog yang sering dipanggil Bunda Elly Risman yang diceritakannya di acara Seminar Parenting yang digelar di Gedung Suryakencana Bogor pada Sabtu, 29 Oktober lalu.

Di seminar yang bertema Kiat Membangun Generasi Mandiri ini juga Bunda Elly memperagakan air yang ditumpahkan ke dalam gelas kosong. Dengan menyodorkan microphone ke dekat air yang tumpah itu maka para peserta seminar  dapat mendengar suara gemericik air. Dengan mimic seperti anak kecil yang keheranan melihat kegiatan dan suara menumpahkan air tersebut, Bunda Elly berusaha menyampaikan pesan kepada para orang tua bahwa anak-anak selalu mencoba menemukan campuran yang indah antara penglihatan, bunyi dan kegiatan. Namun sayang banyak orang tua yang melarang anaknya melakukan kegiatan experimental seperti itu. Hal ini mungkin dikarenakan para ibu takut lantai menjadi kotor dan malas membersihkan lantai kotor akibat kegiatan anaknya.

Ada baiknya orangtua memberikan kebebasan anaknya untuk berkreativitas  dan bereksplorasi dengan berpegang pada batasan kesehatan, keamanan dan tentu saja kegiatan itu tidak mencederai si anak. Jadi memang kebebasan eksplorasi ini harus tetap dibatasi dengan dibuat aturan-aturan yang harus dibuat bersama dan dimengerti oleh si anak dan harus disebut berulang-ulang sampai si anak benar-benar ingat dan mengerti. Biasanya aturan yang dibuat orangtua tidak berhasil dipatuhi anak karena si anak merasa tidak terlibat dalam proses pembuatan aturan tersebut. Alangkah indahnya jika kita memiliki anak yang mempunyai kepribadian yang teguh, mandiri, berpendirian namun menurut pada orang tua, bukan? Tentunya hal ini bisa terwujud jika si anak sudah dididik untuk mandiri sejak dari kecil, seperti contoh murid Bunda Elly yang tidak mau dibantu kancing celana jeans-nya di atas. Rumus yang diberikan Bunda Elly untuk melatih anak mandiri adalah BMM, yaitu: Berfikir, memilih dan mengambil keputusan harus dilakukan oleh anak dan atas nama  si anak. Bila anak sudah menjalankan BMM maka tugas orang tua adalah sebagai supervisor kemandirian yang tugas detailnya adalah: memberikan cinta yang tulus, dukungan dan dorongan pada anak untuk eksplorasi dan rasa ingin tahu, rangsang anak untuk mencoba dan ingin tahu, biarkan anak membuat pilihan, mencicipi kecewa dan kita sebagai orang tua siap menjadi JPE (jaringan pengaman emosi) anak juga jangan lupa ajarkan anak life skill serta kenali usaha dan keberhasilannya.

Di slide presentasinya, Bunda Elly juga memberikan daftar kegiatan mandiri yang bisa dilakukan anak sesuai dengan perkembangan usia, yaitu dari usia 12 bulan hingga 19 tahun. Intinya pembelajaran mandiri pada anak ini agar si anak mengerti bahwa hidup ini tidak akan selalu senang dan kaya. Dengan kemandirian, si anak akan tetap akan bisa bertahan jika kehidupannya sedang ada di bawah.

Seminar yang dihadiri lebih dari 400 orang dengan ruangan yang begitu luas disertai anak-anak dari para ibu peserta seminar yang berteriak,menangis dan lari-lari memang sangat menantang bagi Bunda Elly ditambah kondisi badan beliau yang kurang fit namun ia tetap menyampaikan materi dengan semangat diselingi tiruan gaya anak-anak menangis, merengek,dll.  Terlihat beliau  sangat menjiwai psikologi anak-anak.  Dengan suasana yang sulit untuk konsentrasi, saya yakin pada hari itu, dengan hanya mengeluarkan kocek sebesar Rp 50 ribu saja, para peserta seminar tetap dapat menangkap dan mendapatkan wawasan baru dalam hal mendidik anak dari beliau.

Dengan adanya seminar parenting seperti ini diharapkan akan menambah banyak orangtua yang mendidik anak dengan ilmu tentang cara mendidik para penerus bangsa ini sehingga pada akhirnya akan bermunculanlah manusia Indonesia yang berkualitas di masa depan nanti.1T

If children are involved in making family decisions, they will get an early start on developing their own leadership skills” anonymous

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s