Dari Khutbah Idul Adha di GWW IPB

Kemarin  pagi saya dan Imel, anak mahasiswi S2 IPB, tergopoh-gopoh mencapai tempat solat Iid di tempat parkir samping gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB, padahal saat itu jarum jam belum menunjukkan pukul 7 tepat, tapi solat Iid sudah dimulai. Namun alhamdulillah akhirnya kami kebagian solat  juga walaupun harus jadi masbuk tertinggal satu rakaat. Ternyata yang datang tergopoh-gopoh tidak hanya kami berdua, tapi ada beberapa, bahkan ada yang sama sekali tidak kebagian solat, karena begitu mereka tiba solat Iid sudah berakhir. Penyebab jamaah kesiangan ini karena tidak mengetahui kapan waktu subuh dan juga karena tidak ada spanduk yang ditempel di pagar kampus IPB yang menginformasikan bahwa solat Iid akan dilaksanakan pukul 6.30. Ya, karena subuh sekarang sudah masuk pada pukul 4.07 maka tidak heran bila solat Iid dilaksanakan pada pukul 6.30AM.

Seperti biasa solat Iidul Adha di lapangan GWW selalu penuh karena banyak mahasiswa IPB yang  tidak mudik. Isi khutbah pun disesuaikan dengan para pendengarnya, yaitu para civitas akademika yang tentunya bisa menangkap khutbah yang disisipi materi ilmiah.  Mungkin karena khatib sendiri yang membuat teks khutbah, sehingga  sang khatib membacateks khutbah  dengan lancar dan bersemangat disertai dengan intonasi dan tentunya juga karena pengeras suara yang bagus membuat saya ingin mendengarkan khutbahnya. Hanya satu yang sering saya lupa: bawa kertas dan alat tulis!

Tadi pagi sang khotib menyemangati para jamaah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam khutbahnya beliau membacakan sebuah ayat yang sebenarnya bermakna aktif.  Maksud kalimat naik haji wajib bagi mereka yang mampu bukan berarti hanya orang yang berharta saja yang bisa berangkat haji. Sedangkan yang hidup senin kamis dilarang punya keinginan untuk pergi haji. Allah sebenarnya tidak pernah membuat kita menjadi manusia yang tidak mampu, namun manusialah yang membatasi dirinya menjadi tidak mampu. Kunci untuk menjadi mampu pergi haji adalah cita-cita dan doa agar suatu hari nanti kita bisa menunaikan rukun Islam yang ke-5 ini.

Pak khatib juga menyinggung masalah hikmah hewan kurban. Mengapa Allah tidak menyuruh manusia kurban dengan beras atau barang yang lain? Walaupun ini masih jadi kontroversi antara protein hewani vs nabati, namun yang jelas daging adalah sumber protein. Intinya Pak Khatib ingin menyampaikan bahwa protein hewani adalah protein bermutu tinggi yang merupakan kebutuhan yang sangat vital untuk pembentukan otak sejak anak masih janin sampai umur 2 tahun. Mengapa orang Indonesia tidak kreatif, padahal Indonesia terletak di khatulistiwa sehingga terjadilah biodiversity, namun biodiversity ini tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga hingga kini orang Jawa makan nasi saja, orang Maluku makan sagu saja. Kita yang kaya akan kekayaan hayati tidak dibiasakan makan berbagai makanan. Juga kita tidak pernah mau mengolah bahan mentah menjadi bahan yang lebih bisa mendatangkan keuntungan. Misalnya kalau susu dijual dalam bentuk yogurt pasti harganya akan lebih dari sekedar susu mentah.

Khutbah kedengarannya seperti melebar ke mana-mana, bahkan sang khatib pun sampai membicarakan RNA messenger segala. Namun yang saya tangkap maksudnya adalah ia ingin menyampaikan (kira-kira) tentang penyebab ketidakkreatifann orang Indonesia bisa jadi karena waktu kecil kurang protein. Maka hikmah kurban adalah agar kita memperhatikan makanan yang kita makan.

Seperti pesan dari khutbah Iidul Adha tahun ini bahwa kita harus punya cita-cita dan berdoa untuk menunaikan ibadah haji, maka mulai sekarang , saya yang tidak pernah berdoa naik haji, mudah-mudahan selalu ingat untuk menyelipkan doa agar suatu hari saya bisa memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji di Makkata Mubaarakah.

Labbaik Allaahumma labbaik Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aaamin. 1T

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Sosial Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s