BPT Kabupaten Bogor, Birokrasi yang Menerapkan Manajemen Mutu

Setelah mendapat tempat untuk praktek akupunktur, saya  memberanikan diri untuk mengurus perizinan. Namun banyak informasi miring yang membuat saya malas untuk mengurusnya. Berurusan dengan birokrasi di Indonesia itu berarti saya akan bertemu dengan adagium “kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah?” Tentu saja untuk mempermudah adalah dengan membayar uang pelicin berupa pungutan liar.

Untuk memperoleh izin praktek, tentu saja saya harus melengkapi syarat-syarat perizinan. Tahap  setelah meminta surat pengantar dari RT adalah meminta surat pengantar dari kelurahan atau kalau di kabupaten disebut kantor desa. Sebelum maju ke desa saya mencari informasi mengenai perkiraan dana dan syarat untuk memperoleh surat pengantar dari sana.

Tiba di kantor desa saya diterima oleh sekretaris desa. Saya sampaikan maksud saya, lalu dengan tidak memakan waktu yang lama, diuruslah keperluan saya tersebut karena tentunya kantor desa sudah memiliki format suratnya. Setelah ditandatangani kepala desa, sekertaris desa bertanya apakah saya tahu nilai nominal secarik kertas itu. Saya jawab tidak tahu. Sebenarnya di otak saya sudah ada bayangan uang yang harus saya keluarkan, karena sebelumnya saya sudah bertanya pada teman-teman yang pernah berurusan dengan kelurahan. Tanpa tedeng aling-aling sekretaris desa menyebut angka 250 ribu. Tentu saja saya kaget, tidak menyangka bisa semahal itu.  Inilah yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Saya pikir tidak ada guna  bila saya tanyakan ketentuan tarif resmi, mengingat pembayaran yang tidak sesuai dengan peraturanadalah bukan rahasia lagi di birokrasi kita. Namun saya tetap menyatakan keberatan saya. Terjadilah argumentasi antara saya dengan sekretaris desa, namun tentu saja argumentasi yang tidak menyulut “perang”, karena saya tidak mau mempunyai musuh. Saat itu hampir saja saya menyerah tidak melanjutkan perizinan, karena saya pikir, baru tahap awal saja sudah sebesar itu nominal-nya, apalagi bila pengurusan izin sudah sampai pada tahap atas, pasti bakal lebih mahal lagi.  Sekretaris desa meyakinkan saya bahwa nilai 250 ribu itu murah. Lalu dia memberi informasi bila minta surat izin ke BPT, Badan Perizinan Terpadu, maka tarifnya akan sangat mahal. Lalu  sang sekretaris desa  meminta saya untuk menawar. Maka di angka 75 ribu baru dia menyerahkan surat yang ternyata berlaku hanya satu tahun itu.

Setelah persyaratan lengkap, saya naik mengajukan izin ke lembaga tertinggi pemberi izin praktek pengobatan di daerah saya, yaitu kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Namun petugas di sana memberi tahu bahwa perizinan untuk pengobatan non medis sudah ditangani oleh BPT (Badan Perizinan Terpadu). Saya jadi teringat informasi dari sekretaris desa bahwa tarif perizinan di BPT mahal. Belum lagi informasi dari teman yang pernah berurusan dengan lembaga perizinan bahwa akan banyak dinas yang ikut nimbrung. Itu berarti saya harus siap-siap uang segeplok.  Lebih parah lagi seorang teman yang bekerja di dinas pariwisata memberi tahu saya bahwa harus ada juga izin dari dinas pariwisata. Yang terakhir ini saya hanya bisa menjawab, “Apa hubungannya akupunktur dengan dinas pariwisata?”

Karena  informasi yang simpang siur, maka pada hari Kamis tanggal 15 Desember 2011 saya memberanikan diri ke kantor BPT Kabupaten Bogor. Begitu saya memasuki ruang tunggu dengan banyak loket di kanan kirinya, tepat di atas TV LCD yang menggantung di dinding, saya melihat ada teks berjalan yang berbunyi “ Selamat datang di kantor Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Bogor. Terima kasih Anda tidak memberi imbalan atas kinerja kami.” Lalu saya pun melihat di meja ada tulisan berbunyi “ Terima kasih Anda TIDAK memberikan TIP/HADIAH dalam bentuk apapun atas pelayanan kami.” Membaca informasi itu, hati saya berbunga-bunga. Di meja pelayanan saya serahkan semua berkas perizinan saya pada seorang staff, lalu saya tanyakan biaya perizinannya. Setelah melihat layar monitor di depannya, sang staff memberi tahu saya bahwa biaya perizinan untuk Battra (pengobatan tradisional) adalah nol rupiah. Semakin berbunga-bungalah hati saya apalagi ditambah dengan pelayanan dari sang staff yang ramah dan tidak mempersulit. Lalu saya diberitahu bahwa perizinan akan selesai dalam 14 hari kerja.

Pada hari Senin tanggal 19 Desember 2011, saya mendapat telepon dari petugas BPT bahwa hari Rabu mereka akan datang untuk meninjau tempat praktek saya. Pada Rabu siang datanglah 4 orang petugas: 2 dari BPT dan sisanya dari Dinkes Kabupaten Bogor. Begitu tiba di rumah mereka dengan ramah menolak untuk langsung duduk dan menyantap hidangan kecil yang sudah saya siapkan. Mereka memilih bekerja dulu baru istirahat. Acara peninjauan lokasi ini disertai tanya jawab seputar alat yang saya gunakan untuk menerapi pasien, limbah infectious serta mereka pun memberikan saya masukan-masukan yang semuanya itu dalam rangka melindungi pasien sebagai konsumen. Tak lama setelah beristirahat, mereka langsung pamit dan tatkala saya tanya berapa uang bensinnya, mereka dengan tegas menjawab, “Tidak ada uang bensin, Bu. Ini tidak dikenakan biaya.” Saya hanya melongo mendengar jawaban yang tidak disangka-sangka itu.

Pada hari Rabu pagi tanggal 28 Desember 2011, kembali saya mendapat telepon dari staff BPT memberi tahu surat izin saya sudah keluar. Saya tidak menyangka surat itu akan keluar secepat itu. Kronologinya adalah: Tanggal 15 Desember saya memasukan berkas , tanggal 21 dilakukan peninjauan dan tanggal 28 keluar surat izin.

Dari pengalaman ini,  saya sangat mengapresiasi  BPT Kabupaten Bogor atas pelayanan yang memuaskan, kepastian waktu pelayanan dan yang utama adalah mentalitas birokrat yang membuat saya melongo ketika mereka menolak uang bensin yang saya tawarkan. Karena perasaan salut itu maka iseng-iseng saya browsing BPT Kabupaten Bogor di Google. Informasi yang saya dapatkan adalah ternyata kantor yang beralamat di Jalan Tegar Beriman No. 40 Cibinong ini sudah mendapatkanSertifikat Manajemen Mutu SNI ISO 9001:2008 dari PT. Sucofindo International Certification Services yang merupakan badan sertifikasi yang diakui secara nasional maupun internasional karena telah diakreditasi baik oleh badan akreditasi nasional maupun internasional.

Saya berharap akan banyak masyarakat yang mau mendaftarkan usahanya, sehingga pemerintah kota/kabupaten setempat bisa mendata dan mengoptimalkan potensi yang ada di daerahnya, menarik investasi karena bisa menghilangkan ekonomi biaya tinggi sehingga menunjang pembangunan di segala bidang dan juga untuk melindungi masyarakat untuk memperoleh barang dan jasa yang bermutu dan aman. Kemudahan itu terutama pada biaya nol rupiah pada semua layanan izin, kecuali untuk Izin Mendirikan Bangunan Gedung, Izin Gangguan (HO) dan Izin Penyelenggaraan Reklame yang biaya izinnya sudah ada ketetapannya dengan jelas. Saya juga berharap  akan banyak  dinas teknis daerah maupun lembaga-lembaga negara yang menerapkan system manajemen mutu, sehingga rakyat  yang merupakan penyumbang terbesar pendapatan negara lewat pajak akan merasa mendapatkan haknya sebagai pihak yang harus dilayani. Juga dengan adanya system manajemen mutu ini, diharapkan dinas teknis daerah bisa berhati-hati dalam memberikan izin. Jangan sampai peristiwa seperti usaha pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara dan PT Indo Mineral Persada di Bima, Nusa Tenggara Barat seenaknya mencemari sumber air di lingkungan rakyat Bima, yang pada akhirnya rakyat memprotes dan meletuslah peristiwa militerisme Polri di Pelabuhan Sape, Bima, NTB yang kemungkinan besar akibat pemberian izin yang serampangan dari lembaga perizinan yang belum menerapkan system manajemen mutu.

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Regional and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s