Belajar Mendongeng Bersama Kak Ariyo

Tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba saja teman saya, Mbak Wikan, mengundang saya ke acara Belajar Dongeng di @america Pacific Place, SCBD (Sudirman Central Business District), lantai 3. Karena kebetulan sudah dua kali jadi MC jadi-jadian di acara Buka Bersama Anak Yatim di Bogor dan saat jadi MC yang kedua sempat jadi pendongeng jadi-jadian (maksudnya sama sekali tidak tahu ilmunya), maka saya sangat menyambut undangan Mbak Wikan ini.

Tadi siang saya datang terlambat setengah jam ke acara ini. Dan saat tiba di ruangan yang mirip studio, Kak Mochamad Ariyo Faridh Zidni, guru mendongeng kita, sedang bercerita bahwa ia dulu suka dijuluki muktar alias muka datar oleh teman-temannya, karena saking tidak ada ekspresi ketika bercerita atau berbicara. Maka ia meyakinkan para hadirin yang kebanyakan terdiri dari para orang tua bahwa dalam mendongeng yang diperlukan adalah komunikasi. “Orang yang bisa berkomunikasi pasti bisa mendongeng,” kata pendongeng yang bekerja di British Council sebagai konsultan pendidikan ini. “Anak-anak tidak akan melihat tampang dan suara kita. Mereka mau dekat dengan orang yang mau dekat dengan mereka. Jadi tidak ada teori untuk mendongeng,” lanjutnya. Ia juga bercerita pernah menanyakan resep mendongeng Pak Raden, tokoh di serial Si Unyil yang ia kagumi. Ternyata Pak Raden dalam mendongeng hanya memakai perasaan cinta dan kejujuran.

Walaupun Kak Ariyo yang memiliki panggilan Kak Aio ini berkata tidak ada teori untuk mendongeng, namun tetap ia memberikan point agar dongeng kita di dengar oleh anak. Point pertama yang harus kita ingat adalah kita pilih cerita yang kita suka. Kalau kita suka ceritanya pasti kita akan sukses saat mendongeng. Kedua, perhatikan suara. Pastikan suara dengan intonasi yang tepat sesuai dengan kondisi cerita seperti sedih, marah, suara raksasa, dll. Ketiga, ekspresi, ingat jangan muktar. Keempat, gesture, yaitu melibatkan tangan, jari-jari, bahkan telinga pun kalau bisa digerakkan akan menambah daya tarik cerita bagi anak. Kelima, alat bantu, misalnya dengan menggunakan hand puppet. Other abilities misalnya bila si pendongeng punya keahlian menggambar, bisa mendongeng sambil menggambar. Intinya semua point di atas adalah agar pendongeng bisa menggali emosi anak-anak.

Ternyata di acara yang terbuka untuk umum dan gratis ini saya gak telat-telat banget datangnya, karena tidak ketinggalan materi utama, yaitu Story Telling with Books or Read Aloud. Read Aloud di sini bukan arti harfiah membaca lantang namun diartikan dengan Membacakan Cerita, yang artinya mendongeng dengan membacakan sebuah buku kepada anak. Kalau mendongeng ini dilakukan antara orang tua dengan anak-anaknya maka akan terbangun keakraban, karena ada sentuhan atau kedekatan. Membacakan cerita ini seharusnya menjadi sebuah aktivitas ringan ketika orang tua menyisihkan waktunya untuk membaca cerita secara rutin.

Kata pendongeng yang badannya beda tipis dengan Obama(dalam hal kurusnya hehe) kegiatan membacakan cerita ini bisa dimulai saat bayi masih berada dalam kandungan. Tiga bulan terakhir kehamilan adalah saat yang tepat, karena organ tubuh, terutama telinga, sudah sempurna. Si jabang baby sudah bisa merasakan getaran suara saat orang tuanya membacakan cerita. Getaran suara itulah yang akan ia kenal sehingga akan ada ikatan dengan si pemilik getaran suara itu. Dan percaya atau tidak lambat laun si anak nantinya akan bisa membaca dengan mudah.

Yang perlu kita perhatikan dalam Read Aloud adalah cari cerita yang happy ending agar anak-anak bisa terbiasa dengan sesuatu hal yang indah sehingga hidupnya akan mudah tersenyum. Dengan senyum maka waktu anak akan berkualitas sehingga mereka akan senang dan pengalaman yang menyenangkan ini membuat mereka ketagihan ingin dibacakan cerita lagi, maka di otak mereka akan terekam bahwa membaca itu seru sehingga kelak mereka akan gemar membaca.

Saat dibacakan cerita, anak-anak pun akan menambah perbendaharaan kata mereka. Kegiatan Read Aloud ini melibatkan indra pendengaran dan penglihatan mereka, maka saat membacakan cerita bacalah sambil menunjuk apa yang kita baca. Bagi anak, huruf adalah gambar, maka dengan sering melihat gambar itu dan mendengar bagaimana gambar itu dibunyikan maka dia akan ingat. Kalau rutin dibacakan maka jangan heran bila si anak bisa membaca sendiri. Jadi dalam Read Aloud ini ada unsur belajar membaca juga kita bisa menstimulasi daya tangkap anak dengan menanyakan misalnya “ Menurut adek yang jahat yang mana?” dll.

Ada 4 langkah dalam kegiatan Membacakan Cerita. Pertama, pilihlah bacaan yang terbaik bagi anak. Si pembaca cerita sebelumnya harus membaca buku yang akan dibacakan, cari bagian yang seru atau karakter yang ingin ditekankan, atau buku yang gambarnya berwarna bisa sambil mengenalkan warna pada anak. Kedua, sipembaca cerita jangansekali-kali membahas nilai moral dengan cara mengajarkan anak, tapi dengan diskusi dengan tidak langsung menunjuk. Buatlah pertanyaan seperti, “Yang seru yang mana?”, “Bagus gak? Jahat gak?” Jadi intinya si pendongeng tugasnya setelah membacakan hanya mengarahkan anak. Ketiga, explore wawasan anak pada topik bacaan. Misalnya ketika kita akan menghilangkan kebiasaan buruk anak yang suka ngupil, bisa dicari bacaan yang berhubungan dengan kuman. Keempat, mulailah Membacakan Cerita dengan mengenalkan terlebih dahulu judul buku, pengarang, ilustrasi agar anak tahu bahwa buku ada yang mengarang dan ada judulnya. Saat membacakan cerita jadilah bintang, maksudnya jadilah orang yang dikagumi oleh si anak. Buatlah mereka terpana dengan cerita dan cara kita bercerita. Dan jangan lupa selalu menutup kegiatan Membacakan Cerita dengan diskusi.

Di akhir acara,  sebelum beberapa peserta praktek membaca dengan intonasi dan ekspresi, pendongeng yang sudah 11 tahun malang melintang di dunia perdongengan ini juga menyatakan keprihatinannya tentang minimnya minat baca anak Indonesia. Menurutnya minat baca rendah disebabkan akses buku yang rendah. Orang tua lebih senang anak-anaknya diam menonton TV. Kalau pun di rumah ada buku tapi hanya jadi pajangan di lemari. Kalau ingin merubah kualitas SDM kita, maka bangunlah anak-anak kita agar suka membaca.  Untuk itu sudah sepantasnya bila para orangtua meluangkan waktu mereka selama 20 menit setiap hari membacakan cerita untuk masa depan buah hati mereka dan masa depan bangsa Indonesia.1T

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s