Aksi Alumni dalam Menjembatani Kesenjangan Ekonomi

Kompas Jumat 23 Desember 2011 menurunkan tulisan dalam Tajuk Rencananya yang berjudul Tantangan Kesenjangan Ekonomi. Dalam tulisannya Kompas menyorot tentang kurangnya peranan kelas menengah sebagai agen perubahan dan lokomotif untuk menghela kemajuan bagi lapisan masyarakat bawah. Walaupun jumlah masyarakat menengah meningkat, namun dinilai cenderung konsumtif dan cenderung asik dengan urusannya sendiri tanpa peduli dengan kondisi kaum miskin. Sehingga jarak antara dua strata sosial ini semakin jauh dengan terciptanya jurang yang lebar dan dalam antara si kaya dan si miskin.

Namun, ternyata dari sekian banyak kelas menengah yang sibuk dengan urusan sendiri, ada juga komunitas yang kerap berusaha untuk menjembatani jurang yang lebar itu. Mereka adalah para lulusan SMA 49 dan SMP 46 Jakarta dengan motor penggeraknya adalah Pak Dedi Hariadi, seorang alumnus dari kedua almamaternya di atas.

Dimulai dari alumni SMA 49 yang selalu mengadakan kumpul-kumpul lalu membentuk perkumpulan alumni pada tanggal 10 bulan 10 tahun 2010. Pak Dedi salah seorang alumnus mengajukan ide pada teman-temannya untuk mengadakan bakti sosial. Ternyata idenya disambut baik oleh teman-temannya yang sekarang sudah bekerja di berbagai bidang dan memiliki kehidupan yang baik secara ekonomi. Lalu Pak Dedi karena profesinya sebagai seorang wartawan yang kenal dengan banyak kalangan, mengontak temannya yang dokter dan merupakan putri dari pendiri Ladika (Lembaga Pendidikan Akupunkur). Maka akhirnya Ladika pun bersedia untuk ikut berpartisipasi dengan menyediakan tenaga dokter dan terapis serta obat-obatan dalam acara baksos yang diadakan oleh alumni SMA 49 Jakarta. Sedangkan alumni SMA 49 mencari tempat baksos di mana banyak terdapat warga yang tidak mampu, mendirikan tenda, menyediakan kursi serta konsumsi. Maka sukseslah baksos yang pertama dengan target pasien sebanyak lebih dari 250 orang. Dan tidak terasa baksos itu sudah diadakan sebanyak 5 kali.

Lalu kira-kira pertengahan bulan Desember yang lalu, alumni SMP 46 mengadakan acara baksos sekaligus pembagian sembako kepada masyarakat ekonomi lemah di sekitar stasiun Pasar Minggu. Menurut Pak Dedi, para donator acara tersebut tidak hanya dari alumni SMP 46 saja, namun ada juga dari para dermawan yang menitipkan hartanya untuk disalurkan pada yang tidak mampu. “Jadi para alumni bergerak, dan memberitahu teman-temannya yang lain yang suka dengan kegiatan sosial untuk menyumbang. Kami kadang menggunakan sekolah SD yang ada di sekitar masyarakat sebagai tempat baksos karena ternyata biayanya jadi lebih murah daripada menyewa tenda.”

Menurut cerita Pak Dedi, alumni SMA 49 ternyata tidak hanya mengadakan baksos saja tapi mereka mengadakan tabungan untuk membeli hewan kurban. “Jadi bagi yang ingin berkurban, teman-teman alumni menabung sebulan Rp 150 ribu selama 10 bulan. Maka dari hasil tabungan itu minimal bisa terbeli 2 sapi dan 14 ekor domba,”jelas Bapak yang selalu bersemangat ini. “Bahkan kami ini juga punya usaha. Kami memiliki tanah dan ditanami beras merah organik. Jika panen maka semua teman harus membelinya. Kami juga tiap tahun mengadakan family gathering.” lanjutnya.

Ketika ikut berpatisipasi dalam acara ini, saya merasakan betapa sedihnya menjadi kaum kelas bawah. Bagi mereka berobat adalah barang mahal, karena mereka harus mengeluarkan uang yang tidak pernah ada sebagai dana cadangan, karena uang untuk makan saja sudah pas-pasan. Maka tidak heran bila sebelum jam 09:00, waktu dimulainya baksos, mereka sudah siap-siap menyerahkan kupon yang telah dibagikan panitia. Ketika pengobatan berlangsung, ada di antara mereka yang curhat serta menangis memeluk salah seorang terapis. Mereka menangis karena ingin menumpahkan segala beban hidup mereka yang terasa berat. Melihat pemandangan itu, saya jadi merasa betapa bermanfaatnya kegiatan baksos ini, karena dengan baksos kaum berpunya bisa menyapa , bersalaman dan memperhatikan mereka walaupun  apa yang telah dilakukan tidaklah banyak merubah kehidupan mereka. Namun sentuhan perhatian dari kelas menengah ternyata mampu membuat mereka sedikit lega dengan kebahagian dan luapan air mata yang mungkin selama ini mereka pendam karena mereka tidak tahu harus mengadu pada siapa.

Saya berharap akan banyak alumni yang juga bisa bergerak seperti alumni SMA 49 dan SMP 46, sebagai perwujudan kepedulian antara kelas menengah kepada kaum miskin, sehingga diharapkan jurang pemisah di antaranya bisa terjembatani dan diharapkan nantinya kaum menengah bisa menjadi agen perubahan yang bisa mengangkat para saudaranya yang kurang beruntung dalam hal ekonomi.

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Sosial Budaya and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s