Ada Manohara di Borobudur

Pada Senin 5 September 2011 saya ikut dalam acara silaturahim sekaligus studi banding kakak saya ke Kantor Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB) Magelang Indonesia. Karena bekerja pada instansi terkait dengan BKPB, kakak saya, dan tentunya juga saya  yang menguntilnya ke kantor ini,  mendapatkan kesempatan untuk mengetahui lebih dalam mengenai konservasi benda cagar budaya Borobudur. Di kantor ini saya jadi tahu ternyata pekerjaan konservasi benda cagar budaya tidak sederhana yang saya kira. Apalagi benda cagar budaya ini adalah Borobudur yang sudah masuk kedalam daftar world heritage sejak tahun 1991.

Di BKPB kami diperkenalkan dengan alat pengukur berupa digital scanner yang bisa menggambar objek dalam wujud 3D. Alat bantuan dari UNESCO yang seharga 2 M ini bisa memberikan informasi ukuran, struktur bangunan, detail bangunan dan pondasi benda cagar budaya. Tentu saja pekerjaan ini menuntut arkeolog yang bekerja di bagian arsip dan dokumentasi untuk menguasai Auto CAD dalam memperhalus gambar. Dalam hal memonitor kondisi candi Borobudur, kami melihat ada alat untuk memonitor klimatologi dan analisis-analisis lainnya. Di ruangan IT para petugasnya memperlihatkan kepada kami kamera CCTV yang dipasang di 10 titik. Pembesaran objek dari sebesar semut hingga terlihat jelas menandakan kemampuan optical zoom hingga ratusan kali. Kami juga diajak ke laboratorium kimia. Seorang sarjana kimia saat itu terlihat sedang sibuk menghilangkan kerak pada sebuah benda peninggalan sejarah.

Pada saat saya melihat-lihat gambar struktur pondasi Borobudur, saya melihat ada tulisan “Relief Manohara”. Sebelumnya saya penasaran dengan nama sebuah hotel di samping kantor BKPB. Hotel itu bernama Hotel Manohara. Saat melihat nama hotel itu, saya mengira masyarakat di sana sudah terkena demam artis yang pernah heboh karena kasus KDRT di Malaysia. Tapi setelah membaca tulisan Relief Manohara di kantor BKPB, saya jadi penasaran untuk segera ke Borobudur dan melihat langsung gambar Manohara di sebuah panel relief  dinding Borobudur.

Ketika kami tiba di Candi Borobudur, dua orang teman kakak saya yang menjadi staff di BKPB memperlihatkan relief Manohara yang terdapat di dinding bawah tingkat Rupadhatu (badan candi). Wah, saya langsung kagum pada Ibu-nya Manohara yang sudah datang ke Borobudur dan mendapatkan ilmu berupa nama yang bisa ia manfaatkan untuk nama anaknya. Atau apa karena Bapaknya artis Manohara yang berkebangsaan Perancis sehingga ia banyak bertanya pada guide atau ia membaca tulisan tentang Borobudur sebelum datang ke Borobudur sehingga ia menemukan nama Manohara di Candi Borobudur? (ssstt itu juga kalo mereka sudah pernah ke Borobudur yah hehe)

Saya jadi teringat sebuah tulisan di sebuah koran online tentang beda turis Indonesia dan turis Eropa di China. Menurut tulisan itu kebanyakan turis Indonesia tidak begitu tertarik bila seorang tour guide menceritakan sejarah suatu objek wisata. Tapi bila sang guide menunjukkan tempat belanja, maka mata turis Indonesia berbinar-binar antusias mendengarkan sang guide. Beda dengan turis Eropa yang sangat kritis bertanya sehingga menuntut sang guide untuk membuka buku sejarah lagi. Nah, karena itulah pada saat kunjungan saya ini, saya berusaha menjadi turis Indonesia yang “cerdas” dengan membaca tentang Borobudur dan bertanya pada guide yang menemani kami.

Borobudur yang terletak di desa Borobudur Magelang dikelilingi Gunung Merbabu, Merapi, Sindoro dan Sumbing memiliki  panjang 121,66 meter dan lebar 121, 38 meter dan tinggi 35,40 meter. Susunan bangunan berupa 9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya. Pembagian vertikal secara filosofis meliputi tingkat Kamadhatu yaitu kaki candi yang menggambarkan perilaku manusia yang masih terikat oleh nafsu duniawi.  Rupadhatu  yaitu badan candi yang mewakili dunia antara, menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi akan tetapi masih terikat oleh dunia nyata. Dan bagian  teratas adalah Arupadhatu merupakan simbol alam atas tempat bersemayamnya manusia yang telah mencapai kesempurnaan hidup.

Batu-batu Candi Borobudur yang menyusun candi dan tanpa perekat itu diperkirakan sebanyak 2 juta potong batu andesit.  Bila kita asumsikan berat batu yang terkecilnya seberat 10 kilogram saja, bisa dibayangkan berapa ton berat candi yang berada di atas bukit Borobudur ini. Belum lagi berat arca Budha yang berjumlah 504 buah. Maka tidak heran bila Candi Borobudur juga dilengkapi dengan sistem drainase yang baik untuk menjaga agar candi tidak ambles ke dalam tanah. Ada beberapa teras yang dilapisi beton agar air hujan tidak merembes lewat celah bebatuan ke dalam tanah. Candi Borobudur yang telah mengalami dua kali pemugaran pun dilengkapi dengan penanaman tiang-tiang beton untuk menyangga setiap terasnya.

Di Candi Borobudur terdapat 1460 panel yang memiliki cerita dan 1212 panel yang dibuat hanya untuk dekorasi. Pada saat melihat panel Jataka (cerita tentang binatang) di tingkat Rupadhatu kami diceritakan tentang cerita berhikmah dari panel tersebut. Seperti cerita tentang seekor kera dan seekor kerbau. Alkisah, si kera yang jahil suka sekali mengganggu kerbau, tapi sang kerbau diam tidak bereaksi. Dewi hutan menyarankan si kerbau untuk melawan si kera, tapi kerbau menolak saran sang Dewi Hutan, karena kerbau takut kalo dia berkelahi dengan si kera, maka si kera akan kabur ke hutan dan mengganggu penghuni hutan yang lain. Tokoh Manohara yang juga berada di tingkat Rupadhatu merupakan seorang bidadari yang dipersembahkan untuk Pangeran Sudana meskipun ayah Sudana tidak menyetujui pernikahan mereka.

Candi Borobudur baru muncul kembali pada 1814 ketika Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris, mengadakan kegiatan di Semarang. Waktu itu ia mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu telah ditemukan susunan batu bergambar. Lalu Raffles mengutus Cornelius untuk membersihkannya. Lalu pekerjaan ini dilanjutkan dan diteliti oleh para peneliti Belanda.

Candi Borobudur sendiri dibangun pada tahun 824 masehi oleh Raja Samaratungga pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra untuk membesarkan Budha Mahayana. Menurut legenda arsitek candi ini bernama Gunadharma yang setelah lelah membangun Candi Borobudur, ia langsung berbaring di atas Bukit Menoreh, bukit yang dekat dengan Candi Borobudur. Menurut sebagian orang bukit itu terlihat seperti orang sedang tidur.

Borobudur telah mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama tahun 1907-19911 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pemugaran kedua tahun 1973-1983 yang didanai dari Pelita dan UNESCO.

Tertimbunnya Borobudur memang masih menjadi misteri, namun tentunya sebagai manusia saya bisa menuliskan beberapa kemungkinan, misalnya: Saat saya ke kantor BKPB, di ruang dokumentasi dan arsip ada foto-foto jadul ekskavasi (penggalian) Borobudur. Di foto, bangunan Borobudur yang yang terlihat utuh hanya bagian stupa paling atasnya saja, sedangkan stupa dan bagian yang lainnya hancur, malah banyak relief yang hilang. Jadi Borobudur yang sekarang ada adalah hasil kerja keras para arkeolog jadul dan dipelihara oleh para arkeolog jaman sekarang tentunya.  Karena Borobudur dekat jaraknya dengan Gunung Merapi, maka saya berpikir Borobudur hancur akibat gempa yang mendahului meletusnya Gunung Merapi.  Seperti kita ketahui,  tanda sebelum gunung meletus adalah seringnya terjadi gempa vulkanik.

Kedua,  Karena tanah bukit Borobudur anjlok dikarenakan sistem drainase yang belum memadai saat pembangunan awal Borobudur pada masa Kerajaan Mataran Kuno. Batuan  Borobudur yang berton-ton itu berada di atas bukit, sehingga harus dijaga sistem drainage nya agar tatkala hujan air tidak merembes ke tanah melalui sela-sela bebatuan yang bisa mengakibatkan bangunan batu itu amblas. Makanya tidak heran  bila pemeliharaan Borobudur ternyata tidak sederhana yang saya kira, seperti di beberapa teras Borobudur sekarang di bawah batuannya dibuat coran semen supaya air hujan tidak merembes ke tanah, dan juga dipasang alat monitoring yang menunjukkan curah hujan, kelembaban udara dll untuk antisipasi agar borobudur tidak ambles dan tidak rusak karena faktor alam. Seperti ditulis di website konservasi Borobudur bahwa Candi Borobudur setelah selesai dipugar tidak berarti selesai sudah perawatan terhadap candi tersebut. Tidak ada jaminan kalau Candi Borobudur terbebas dari proses kerusakan dan pelapukan. Oleh karena itu kantor Balai Studi dan Konservasi Borobudur selalu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkesinambungan. Misalnya monitoring melalui kegiatan observasi pertumbuhan mikroorganisme, observasi stabilitas batu candi, evaluasi struktur candi dan buki, observasi geohydrologi, observasi sistem drainase, analisis mengenai dampak lingkungan, dan lain-lain

Ketiga, Borobudur yang dibangun pada saat Raja Samaratungga (tapi beliau keburu meninggal sebelum Borobudur selesai dibangun) ditinggalkan karena berakhirnya Dinasti Syailendra setelah anaknya dari selir, Balaputra Dewa, hijrah ke Sumatra karena dikalahkan oleh kakak iparnya dari Dinasti Sanjaya yang kemudian menjadi raja terkenal dari Kerajaan Sriwijaya. Lalu berakhirlah Dinasti Syailendra yang kedudukannya memang di daerah perbukitan. Karena sang penguasa berakhir,  maka Borobudur pun ditinggalkan, tidak ada yang mengurus maka lapuk lah karena faktor alam.

Dari Borobudur, saya jadi tahu teknologi orang jaman dulu. Pada abad ke-8 di sini ternyata sudah ada perahu layar, walaupun saya tidak mengetahui pelayaran yang dilakukan saat itu.  Sekedar mengingat kembali, penjelajahan samudera yang dilakukan Columbus pada tahun 1493, dan antara tahun 1405 and 1433 oleh Cheng Ho. Juga, saya membayangkan proses pembuatan Borobudur. Bisa dibayangkan batu kali yang berat itu bisa tersusun rapi, bagaimana caranya orang jaman dulu menyusunnya dan mengangkutnya ke bukit Borobudur yang tinggi itu. Juga pemikiran-pemikiran mereka yang harus kita hormati.  Dan dari setiap kunjungan selalu ada hikmah agar kunjungan kita tidak sia-sia. Dan hikmah itu bisa kita dapat jika kita mau tahu dan belajar dari objek yang kita kunjungi tersebut.  Maka jadilah turis Indonesia yang “cerdas” seperti orangtuanya artis Manohara. 1T

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
This entry was posted in Sosial Budaya and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s