Pentingnya Pengetahuan Tentang Obat Bagi Konsumen

Dalam suatu episode kehidupan, saya pernah bekerja sebagai asisten apoteker di sebuah apotek. Walaupun tidak lama namun pekerjaan itu telah memberikan pengalaman yang berharga bagi saya. Pengalaman itu adalah pengetahuan tentang betapa kita sebagai konsumen begitu buta mengenai obat. Kita percayakan semua hal kesehatan kita pada dokter. Kita tidak tahu apa yang tertulis dan bahkan tidak mengetahui obat apa yang kita minum.

Selama bekerja, saya sempat menyalin arsip resep ke dalam buku catatan saya. Saya kaget ketika menemukan resep untuk bayi berusaha 5 bulan diberi Valisanbe yang komposisinya adalah diazepam atau valium. Valium adalah zat kimia yang biasa dipakai sebagai obat penenang, dan ternyata punya cara kerja yang sama dengan heroin atau morfin pada otak. Itulah yang menyebabkan orang yang mengonsumsi obat ini menjadi ketergantungan.

Entah apa pertimbangan sang dokter spesialis anak yang juga seorang dosen kedokteran perguruan tinggi negeri di suatu kota itu memberikan resep tersebut. Apa karena beliau ini menulis resep obat sesuai permintaan ortunya si bayi supaya sang bayi tidak rewel? Perkiraan saya ortu si bayi menyampaikan keluhan kalo anaknya rewel.  Mungkin supaya tidak rewel, anak itu diberi obat yang termasuk golongan narkotika ini.

Pernah juga saya baca resep seorang dokter anak yang ternyata dalam satu resep memberikan dua antibiotik. Yang satu dicampurkan dalam obat yang dibubukkan/puyer (yaitu Lapimox, yang mengandung amoxicillin) dan yang satunya dalam bentuk syrup (Xepanicol mengandung cholarampenicol). Keduanya adalah broad spectrum antibiotic.  Anti biotik spektrum luas adalah antibiotik yang bekerja untuk membasmi semua jenis bakteri, hal ini bisa menyebabkan superinfeksi.  Superinfeksi bisa menyebabkan mikroba yang tadinya tidak patogen (menimbulkan penyakit) menjadi patogen akibat resistensi terhadap antibiotika karena pemberian yang berlebihan.

Yang lebih gaswatnya, konsumen jika obatnya habis balik lagi beli Xepanicol karena udah merasa cocok dengan obat yang diberikan dokter tersebut dan tidak tahu kalo sebenarnya dalam obat puyer sudah terkandung antibiotik.

Yang konsumen tahu, Xepanicol adalah obat flu, padahal itu antibiotic yang dalam penggunaannya sering menimbulkan kerusakan pada host (tubuh si sakit). Apalagi kalo penggunaannya tidak beraturan dan membabi buta.

Ada lagi konsumen yang katanya mau sakit tenggorokan tapi dia malah minta amoxicillin, dua biji pula! Ternyata oarng Indonesia katanya sudah resisten sama antibitoik ini ya? Ya itulah akibat penggunaan antibiotik yang membabi buta.

Kiranya perlu adanya pendidikan penggunaan obat bagi masyarakat, agar mereka memiliki pengetahuan dalam penggunaan obat. Pengetahuan obat itu bukan dominasi dokter atau pun pihak apotek saja. Bila masyarakat cerdas dalam penggunaan obat, maka kita bisa membangun masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas, karena kita sebagai konsumen tidak bisa terus menggantungkan hidup kita pada dokter. Karena terbukti dokter pun manusia yang tidak luput dari kesalahan, kan?

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
Gallery | This entry was posted in Kesehatan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s