Menyikapi Serbuan Aditif di Sekitar Kita

Bila kita bandingkan angka ketergantungan hidup jaman dulu dengan sekarang pasti kita akan melihat adanya penurunan. Angka ketergantungan hidup orang Indonesia masa kini rata-rata berkisar angka di bawah 65 tahun. Sering kita jumpai penduduk dengan usia di atas 40 sudah mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti jantung koroner, diabetes atau pun stroke pada usia yang sangat muda.

Menurut hemat saya, lingkungan yang penuh dengan polusi, gaya hidup yang tidak sehat serta makanan yang tidak sehatlah yang memicu perubahan tata sehat orang Indonesia. Dalam hal makanan yang tidak sehat bisa kita sebut dengan adanya serbuan makanan yang sarat akan zat aditif ke dalam menu sehari-hari kita. Mari kita lihat buktinya.

Semalam saya mencoba mencermati komposisi sebuah produk minuman berbentuk bubuk. Dalam komposisinya saya mendapati adanya dua macam pemanis dan pewarna buatan, yaitu Aspartame 50 mg/sachet dan acesulfame-K 20 mg/sachet (ADI: 15 mg/kg berat badan) serta pewarna tartrazin Cl 19140 dan pewarna kuning FCF Cl 15985. Belum lagi zat aditif lainnya seperti penstabil dan pengawetnya.

Dalam sebuah situs internet disebutkan efek yang ditimbulkan dari zat di atas. Efek tartazine adalah meningkatkan kemungkinan hiperaktif pada masa kanak-kanak. Efek sunset yellow (FCF) adalah menyebabkan kerusakan kromosom. Efek aspartam adalah gangguan saraf dan tumor otak dan mutagenik.

Masih banyak zat-zat penambah lainnya yang terdapat dalam minuman dan makanan yang sering kita dan anak-anak kita konsumsi. Kalau kita perhatikan pada minuman sirup saja, maka kita akan mendapati adanya pengawet yang berakhiran benzoat, juga yang lainnya seperti nitrat dan nitrit. Belum lagi berbagai macam gula sintesa lainnya seperti saccarin dan siklamat. Juga adanya penyedap rasa dalam makanan seperti MSG yang berdampak pada kelainan hati, trauma, hipertensi, stress, demam tinggi, mempercepat proses penuaan, alergi kulit, mual, muntah, migren, asma, ketidakmampuan belajar, depresi.

Untuk menciptakan generasi yang berkualitas kita memang harus memperhatikan makanan kita. Memasak makanan sendiri dengan pengetahuan tentang gizi yang cukup kiranya sangat membantu kita untuk menghindari serbuan zat tambahan di atas. Tapi perlu diingat, makanan saja tidaklah cukup untuk menjaga agar tubuh kita tetap sehat. Gaya hidup sehat pun harus kita perhatikan.

About isonetea

akupunkturis tinggal di Bogor. Blog ini adalah blog tidak berbayar sehingga tidak luput dari iklan, oleh karena itu mohon mahap bila ada iklan yang tidak sopan muncul di blog ini.
Gallery | This entry was posted in Kesehatan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s